ChatGpt: Ancaman atau Solusi?

Penggunaan kecerdasan buatan tidak bisa dihindari lagi dalam dunia Pendidikan atau akademisi. Belum adanya regulasi yang jelas dalam membatasi penggunaan Artificial Intelligence (AI) ChatGpt bisa berakibat fatal dalam penggunaannya. Hal ini dapat meningkatkan kasus plagiat dalam penulisan karya ilmiah. Disisi lain, terdapat beberapa kelebihan dalam penggunaan AI dalam menstimulasi penulisan kreatif atau sebagai pemantik awal ide penulisan. Menurut ACS Nano (2023), praktik penggunaan AI dalam penulisan makalah ilmiah bersifat dinamis dalam membantu menemukan ide dan tambahan referensi. Akan tetapi, muncul kekhawatiran dalam pemakaiannya untuk mahasiswa dalam mengerjakan sebuah makalah ilmiah karena batasan penggunaannya masih belum jelas. Disisi lain, kecerdasan buatan ini ternyata bisa digunakan untuk “rekan” berdiskusi sekaligus sebagai pemantik ide penulisan yang menarik untuk diulas, dan juga dampak negatif yang ditimbulkan dari AI, apabila salah dalam penggunaan. Tulisan ini akan mencoba berbagai macam sudut pandang yang dihasilkan.

Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan dalam memproses Bahasa dan data yang dimilikinya dapat menjadi sebuah pisau bermata dua. Disatu sisi, dengan memberikan pertanyaan yang tepat dapat memunculkan ide-ide alternatif atau informasi tambahan sebagai referensi dalam penulisan. Akan tetapi, berdasarkan saran dari Direktur Jendral UNESCO Audrey Azoulay (20 Maret 2023) menyatakan bahwa diperlukan beberapa langkah preventif dan batasan yang jelas dalam penggunaan ChatGpt di lingkungan perguruan tinggi.  Beberapa saran diperlukan diskusi bersama diantara pemangku kebijakan di perguruan tinggi seperti staf pengajar, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan pimpinan PT yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan untuk merumuskan cara dalam beradaptasi dengan ChatGpt. Kemudian setelah itu dapat melakukan evaluasi kepada semua bentuk penilaiaan dan penugasan yang terhubung dengan ChatGpt agar dapat melakukan terobosan dan penyesuaian dengan hasil pembelajaran yang diharapkan. Terakhir, sosialiasi yang lengkap dan jelas terhadap standar etika dan peraturan akademik dalam penggunaan ChatGpt dapat menjadi panduan untuk menghasilkan tulisan yang tetap orisinal dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.         

Bijak dengan AI

Penggunaan AI untuk brainstorming ide, mencari sudut pandang berbeda, memeriksa kesalahan tata bahasa dan kosa kata tentu sangat baik untuk meningkatkan kualitas tulisan. Namun demikian, ChatGpt memiliki beberapa kelemahan yang bisa menurunkan kualitas tulisan dan integritas penggunanya. Pertama, aplikasi ini rentan terkena plagiarisme karena tidak mencantumkan sumber tulisan atau pendapat ahli dari si penulis asli. Kedua, ChatGpt tidak dapat membedakan jawaban salah atau benar, sehingga tetap butuh pengawasan atau kendali dari pengguna untuk memutuskan penggunaan kalimat. Ketiga, belum adanya regulasi yang sama antar negara pengguna, sehingga rentan terkena undang-undang hak cipta.

Pada akhirnya, terdapat beberapa saran yang bisa diterapkan oleh institusi pendidikan untuk menggunakan ChatGpt dengan bijak sebagai berikut; (1) Literasi AI, agar memperluas wawasan dalam penggunaannya. (2) Pemahaman nilai etika dalam AI untuk menekankan penggunaan originallitas ide dalam berkarya, karena AI hanya sebagai pembantu ide penulisan. (3) Kompetensi dan keahlian AI penting untuk ditingkatkan secara berkala agar dapat mengimbangi kemajuan teknologi dimasa depan.

Referensi

ACS Nano, 2023, 17, 4091-4093.

UNESCO. 2023, ChatGPT and Artificial Intelligence in Higher Education. 4 – 13.

Doni Alfaruqy (Koordinator Itera Press )

Dalam rangka hari Buku Nasional 17 Mei 2023

Lawan “Bullying” dengan Citra Positif

Akhir-akhir ini, semakin sering kita baca di media masa baik cetak atau daring yang memberitakan terkait kasus bullying dan disertai dengan kekerasan fisik. Pelaku dan korban bullying rata-rata masih berumur remaja atau usia sekolah menengah. Terbaru, kasus salah satu anak pejabat pajak yang mem-bully sekaligus melakukan kekerasan fisik terhadap korbannya yang relatif usianya lebih muda daripada pelaku kekerasan. Lalu, muncul pertanyaan “Mengapa fenomena bullying yang disertai kekerasan fisik ini masih sering terjadi?” “Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan kita?”atau “Bagaimana peran orang tua dalam mendidik anaknya di era teknologi ini?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita perlu mengurai apa faktor-faktor penyebab bullying. Pertama, dampak negatif dari media sosial. Data dari lembaga internasional We Are Social menunjukkan bahwa ada 167 juta pengguna aktif medsos di Indonesia per Januari 2023. Hal yang mengejutkan, para remaja yang menjadi pengguna aktif dan cukup besar populasinya dalam menggunakan internet dan media sosial akan mudah terpengaruh informasi bohong. Contoh kasus penganiayaan yang dilakukan oleh geng motor di beberapa wilayah di Indonesia yang menyebabkan korban luka dan jiwa,sungguh sangat memprihatinkan.

View More