Langkah Strategis Lolos ISBN

Harits Setyawan dalam seminar Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN

Jumat 17 Juli 2026, Itera Press menyelenggarakan seminar dengan tema “Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN. Seminar tersebut ditujukan bagi penulis, penerbit, dan masyarakat umum yang mengalami kesulitan saat mengajukan Permohonan ISBN. Pada kesempatan itu, Harits Setyawan menyampaikan pengalaman dalam merevisi buku-buku yang diterbitkan hingga memperoleh ISBN. Penjelasan diawali dengan jenis buku yang saat ini sudah tidak diberi ISBN oleh Perpusnas RI, seperti laporan penelitian dan modul. Harits menjelaskan laporan penelitian perlu dimodifikasi terlebih dahulu agar cocok untuk masyarakat umum dengan merubah sistematika penulisannya. Buku tidak disarankan menggunakan format penulisan laporan penelitian, misalnya BAB I Pendahuluan, BAB II Landasan Teori, BAB III Metode, BAB IV Hasil, BAB V Pembahasan, dan BAB VI Kesimpulan dan saran. Sementara itu, modul perlu diperbanyak materi-materinya agar tidak lebih banyak latihan daripada teori sehingga bisa menjadi buku ajar.

Menurut Harits, keseragaman penulisan juga merupakan hal yang paling sering dikomentari oleh reviewer ISBN Perpusnas RI. Penulis dan penerbit perlu memastikan judul buku ditulis sama persis di Surat Pernyataan Keaslian Karya (SPKK), cover depan, halaman judul, halaman copyright, dan kata pengantar. Selain judul buku, urutan nama-nama penulis juga harus seragam pada bagian-bagian buku tersebut. Selanjutnya untuk SPKK, Harits juga menjelaskan bahwa penulis atau editor pertama membuat surat tersebut. SPKK untuk buku non bunga rampai dibuat oleh penulis pertama dan SPKK untuk buku bunga rampai dibuat oleh editor pertama. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan materai dalam SPKK. Materai temple digunakan untuk cap dan tanda tangan basah, sedangkan e-materai digunakan untuk cap dan tanda tangan digital. Penggunaan kedua jenis materai tersebut tidak boleh di-mixed atau gabungkan karena akan diminta revisi oleh reviewer buku Perpusnas RI yang dapat menyebabkan penulis dan penerbit harus membuat SPKK ulang.

Apabila terdapat penulis dosen dan mahasiswa, Harits menyarankan agar buku tidak terlalu tebal karena akan lebih mudah menemukan letak kesalahan dan memperbaikinya. Jika terdapat banyak naskah, bisa dibuat menjadi beberapa buku. Terkadang mahasiswa mencatumkan informasi seperti Nomor Induk Mahasiswa (NIM), program studi, mata kuliah, dan nama kelompok yang mengindikasikan bahwa buku berasal dari aktifitas atau tugas perkuliahan sehingga tidak diberi ISBN oleh Perpusnas RI. Dalam sesi tanya jawab, Harits menyampaikan penulis dan penerbit tidak perlu khawatir dengan desain dan layout buku karena reviewer buku Perpusnas RI tidak mempermasalahkan hal tersebut selama buku rapih. Itera Press membebaskan penulis berkreasi dengan desain dan layout buku tetapi bagian-bagian wajib buku tetap harus ada, seperti cover buku, halaman judul, halaman copyright, pendahuluan/ kata pengantar, daftar isi, isi buku, dan synopsis buku. Penulis juga boleh menulis buku sepenuhnya dalam Indonesia maupun bahasa Asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.