Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi Buku di Kalangan Mahasiswa

IKAPI Lampung & Itera Press proudly present:
Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi Buku di Kalangan Mahasiswa
Narasumber: Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi

Tanggal: Kamis 24 September 2026
Waktu: 08.00 – 09.40 WIB
Tempat: Online
Link: https://meet.google.com/wur-rbyw-dvn

Ilmu tidak selalu harus datang dengan ketakutan tetapi dapat tumbuh bersama rasa aman, dukungan, dan kepercayaan

Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., Koordinator ISBN & SSKCKR Itera Press

Senyum seorang pendidik bukan sekadar lengkung di wajah, melainkan cahaya yang membuat ruang kelas yang dingin terasa lebih hangat. Dari senyum itu, peserta didik belajar bahwa ilmu tidak selalu harus datang dengan ancaman, hukuman, dan ketakutan tetapi dapat tumbuh bersama rasa aman, dukungan, dan kepercayaan.

Peran pendidik dalam proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga dengan suasana emosional yang dibangun di dalam kelas. Senyum pendidik merupakan simbol keramahan, keterbukaan, dan penerimaan. Ketika seorang pendidik menyambut peserta didik dengan senyum yang tulus, ia sebenarnya sedang menyampaikan pesan tanpa kata bahwa kelas adalah tempat yang aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Dengan demikian, senyum bukan sekadar ekspresi wajah, tetapi bagian dari komunikasi yang dapat memengaruhi perasaan dan kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.

“Ruang kelas yang dingin” tidak selalu berarti ruangan dengan suhu rendah, tetapi dapat menggambarkan suasana belajar yang kaku, tegang, monoton, atau penuh jarak antara pendidik dan peserta didik. Sementara itu, “cahaya” menggambarkan kehadiran positif yang mampu mengubah suasana tersebut. Seorang pendidik yang ramah, menghargai peserta didik, dan mampu menunjukkan ekspresi yang menyenangkan dapat membuat kelas terasa lebih hidup dan manusiawi. Kehangatan tersebut membantu menciptakan hubungan yang lebih positif sehingga peserta didik tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga merasa diterima secara emosional.

Dalam praktik pendidikan, ketegasan memang tetap diperlukan, tetapi ketegasan berbeda dengan ancaman. Peserta didik dapat belajar disiplin karena memahami alasan di balik aturan, bukan semata-mata karena takut mendapatkan hukuman. Ketika pembelajaran terlalu banyak menggunakan ancaman dan ketegangan, peserta didik mungkin menjadi patuh, tetapi belum tentu tumbuh rasa ingin tahu, keberanian bertanya, kreativitas, dan yang terpenting rasa cinta terhadap proses belajar.

Rasa aman, dukungan, dan kepercayaan menunjukkan fondasi pembelajaran yang lebih positif. Rasa aman membuat peserta didik tidak takut menyampaikan pendapat atau mengakui bahwa mereka belum memahami suatu materi. Dukungan membuat mereka merasa bahwa kesulitan bukan alasan untuk menyerah, melainkan bagian dari proses belajar. Sementara itu, kepercayaan membuat peserta didik merasa bahwa pendidik melihat mereka sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk berkembang. Dalam suasana seperti ini, kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan yang memalukan, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pendidik tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar. Senyum, sapaan, perhatian, cara berbicara, dan sikap menghargai peserta didik merupakan bagian dari proses pendidikan yang sering kali tidak tertulis dalam RPS, tetapi sangat menentukan bagaimana peserta didik mengalami pembelajaran. Seorang pendidik mungkin tidak selalu dapat mengingatkan kembali seluruh materi yang pernah diajarkan, tetapi suasana yang ia ciptakan di dalam kelas dapat menancapkan jejak yang dalam dan tak terlupakan.

DAY 4 (CUI) PPLK ITERA 2026

Rangkaian CUI pada hari terakhir PPLK ITERA 2026 berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Berbagai kegiatan dan pertunjukan dihadirkan untuk memberikan pengalaman yang berkesan bagi mahasiswa baru.

Kegiatan diawali dengan pengumuman juara 1, 2, dan 3 karya dari Good Day Coffee sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswa baru yang telah berpartisipasi dan menghasilkan karya terbaik.

Selanjutnya, acara dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITERA, di antaranya Pramuka, Saibatin, English Unit for ITERA, serta berbagai UKM lainnya. Pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat beragam wadah pengembangan minat, bakat, dan kreativitas di ITERA.

Sebagai penutup, CUI menghadirkan konser spesial dari The Adams yang berhasil menciptakan suasana semakin semarak. Antusiasme mahasiswa baru sepanjang penampilan menjadikan konser ini sebagai penutup yang berkesan dalam rangkaian PPLK ITERA 2026.

Menjadi Kecil adalah Syarat Mutlak yang Harus Dilalui Sebelum Menjadi Besar

Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., Koordinator ISBN dan SSKCKR Itera Press

“Every large tree in the world used to be young and small. Don’t be discouraged and keep growing”. Kalimat tersebut berbicara langsung kepada hati kita melalui analogi sebuah pohon.

Pohon raksasa yang hari ini berdiri kokoh menembus awan, dulunya adalah sebutir benih yang terkubur di dalam tanah. Ia tidak langsung terlihat hebat. Ia memulai perjalanannya dalam kesunyian, berjuang menembus tanah hanya untuk menumbuhkan selembar daun kecil. Jika kamu merasa sedang berada di bawah, tidak terlihat, atau sedang berjuang sendirian, ingat bahwa itu bukanlah akhir. Itu adalah fase awal dari sebuah pertumbuhan.

Seringkali kita merasa berkecil hati melihat orang lain yang sudah mapan, sukses, dan tampak begitu besar. Kita lalu memandang diri sendiri dan merasa tidak ada apa-apanya. Kalimat ini dengan lembut berbisik: “Jangan layu sebelum berkembang.” Orang-orang hebat yang kamu kagumi hari ini, dulunya juga pernah bingung, pernah gagal, dan pernah sulit. Menjadi kecil bukanlah sebuah cacat atau cela. Itu adalah syarat mutlak yang harus dilalui sebelum menjadi besar.

Pohon tidak pernah berhenti tumbuh. Mereka menahan badai, melewati musim kering, dan terus mengakar ke dalam tanah sedalam mungkin. “Keep growing” adalah pesan agar kamu tidak menyerah pada keadaanmu yang sekarang. Setiap buku yang kamu baca, setiap air mata yang kamu usap, setiap kegagalan yang kamu perbaiki, dan setiap usaha kecil yang kamu lakukan hari ini, meski tidak dilihat oleh orang lain, adalah nutrisi yang sedang membesarkan jiwamu.

Jangan hukum dirimu hari ini hanya karena kamu belum menjadi “pohon yang rindang”. Hargai prosesmu. Tersenyumlah dan katakan pada dunia: “Saat ini aku mungkin kecil dan tak terlihat, tapi suatu saat aku akan mencapai versi terbaikku.” Tetaplah bertahan dan teruslah bertumbuh.

Penyusunan Bunga Rampai 2026: Zoonosis, Lingkungan, dan Virus

Itera Press proudly presents

“Zoonosis, Lingkungan, dan Virus”

Mengundang Bapak dan Ibu untuk ikut dalam penyusunan buku bunga rampai dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Petunjuk penulisan naskah dapat diunduh melalui link berikut: https://s.itera.id/bookchaptervirus
  2. Naskah dikirim ke email: [email protected]
  3. Deadline pengiriman naskah: 31 Desember 2026,
  4. Penulis akan mendapatkan softcopy buku,
  5. Gratis untuk seluruh penulis.

Penyusunan Bunga Rampai 2026: Cerdas Mengelola Kelas

Itera Press proudly presents

Cerdas Mengelola Kelas

Mengundang Bapak dan Ibu untuk ikut dalam penyusunan buku bunga rampai dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Naskah berisi tentang gagasan atau pengalaman dalam mengelola kelas,
  2. Naskah bergenre argumentatif (thesis statement, argument, & kesimpulan) dan bukan artikel penelitian,
  3. Format file docx (Microsoft Word), A4, Times New Roman 12, dan spasi 1.15,
  4. Naskah dikirim ke email: [email protected],
  5. Deadline pengiriman naskah: 31 Desember 2026,
  6. Urutan penulis berdasarkan waktu pengiriman naskah,
  7. Penulis akan mendapatkan softcopy buku,
  8. Gratis untuk seluruh penulis.

Ajarkan agar Tidak Berhenti padamu dan Tuliskan agar Tetap Hidup Setelahmu

“Ajarkan agar tidak berhenti padamu” berpesan tentang mewariskan ilmu dan gagasan. Ada filosofi yang kuat di dalamnya, yaitu guru yang hebat tidak menciptakan pengikut, tetapi melahirkan penerus. Jadi, keberhasilan mengajar bukan ketika murid bergantung selamanya kepada gurunya, melainkan ketika murid mampu berdiri sendiri, berpikir sendiri, bahkan melampaui gurunya.

“Tuliskan agar tetap hidup setelahmu” berpesan tentang meninggalkan jejak pemikiran. Manusia memiliki keterbatasan waktu. Kita bisa mengajar puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang, tetapi pada akhirnya kita tidak akan selamanya berada di tengah-tengah mereka. Karena itu, menulis bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis adalah cara memperpanjang hidup sebuah gagasan. Seseorang mungkin telah tiada, tetapi pemikirannya masih dapat hadir dalam kehidupan melalui tulisan yang ia tinggalkan.

Dengan demikian, ketika kita mengajar, kita memberikan ilmu kepada orang-orang yang hidup bersama kita dan ketika kita menulis, kita memungkinkan suara kita tetap terdengar bahkan saat kita sudah tidak lagi bersama mereka.

Buku Tidak Harus Sempurna dalam Sekali Terbit

Harits Setyawan dengan salah satu karyanya, Skillfully Written Paragraphs, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2020

Sebuah buku tidak harus mencapai bentuk yang paling ideal sejak edisi pertamanya. Yang terpenting, buku tersebut sudah memberikan manfaat, memenuhi tujuan penerbitannya, dan dapat terus dikembangkan berdasarkan pengalaman, masukkan pembaca, serta perkembangan ilmu pengetahuan.

Edisi pertama adalah awal, bukan akhir. Buku dapat menjadi sebuah karya yang terus berkembang. Setelah diterbitkan, penulis dapat menemukan kekurangan, menerima kritik, atau memperoleh perspektif baru yang dapat digunakan untuk memperbaiki edisi berikutnya.

Kesempurnaan membutuhkan proses. Tidak semua kekurangan dapat diketahui sebelum buku dibaca oleh orang lain. Masukkan dari pembaca, dosen, mahasiswa, praktisi, maupun pakar dapat menunjukkan bagian yang perlu diperjelas atau diperbaiki.

Ilmu pengetahuan terus berkembang. Terutama buku akademik dan pendidikan, teori, data, regulasi, teknologi, dan praktik dapat mengalami perubahan. Karena itu, buku yang baik bukan hanya mempertahankan isi lama, tetapi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Penerbitan buku tidak harus menunggu semuanya sempurna. Jika penulis terus menunggu sampai merasa bukunya benar-benar sempurna, sebuah karya bisa tidak pernah diterbitkan. Ada titik ketika sebuah buku sudah cukup matang, layak dibaca, dan bermanfaat, sehingga pantas diterbitkan.

Edisi berikutnya menjadi ruang penyempurnaan. Kekurangan pada edisi pertama dapat diperbaiki melalui revisi, penambahan materi, pembaruan referensi, perbaikan bahasa, atau penyempurnaan desain. Karena itu, keberadaan edisi kedua, ketiga, dan seterusnya bukan berarti edisi sebelumnya gagal, tetapi menunjukkan bahwa buku tersebut berkembang.

Namun, ini bukan berarti buku boleh diterbitkan secara asal-asalan. Sebelum diterbitkan, buku tetap harus melalui proses editorial, proofreading, pengecekan referensi, validasi isi bila diperlukan, serta pemeriksaan teknis dan legalitas. Yang dimaksud adalah bahwa layak terbit tidak sama dengan harus sempurna. Buku pertama adalah fondasi; respons pembaca dan perkembangan pengetahuan menjadi bahan untuk membangun edisi yang lebih baik.

Sehebat Apapun Hiu di Laut, Ia Hanya Seekor Ikan di Darat

Harits Setyawan, Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi Periode 2026-2031

Sehebat apapun hiu di laut, ia hanya seekor ikan di darat. Kalimat tersebut menggunakan analogi untuk menyampaikan bahwa kemampuan seseorang sangat bergantung pada konteks atau lingkungan tempat ia berada.

Setiap orang memiliki “medan” terbaiknya. Hiu adalah predator yang sangat tangguh di laut. Kecepatan, kekuatan, dan insting berburu membuatnya berada di puncak rantai makanan. Namun, ketika berada di darat, semua keunggulan itu tidak lagi berguna. Begitu pula manusia. Seseorang bisa sangat ahli di satu bidang, tetapi belum tentu unggul di bidang lain.

Jangan menilai kemampuan seseorang hanya dari satu situasi. Ada orang yang tampak biasa saja di sekolah, tetapi luar biasa di dunia bisnis. Ada yang pendiam saat berbicara di depan umum, tetapi sangat hebat dalam menulis. Penilaian yang adil perlu mempertimbangkan apakah seseorang berada di lingkungan yang memungkinkan kemampuannya muncul.

Penting untuk menemukan lingkungan yang tepat. Potensi sering kali berkembang ketika seseorang berada di tempat yang sesuai dengan bakat, nilai, dan keahliannya. Sebaliknya, berada di lingkungan yang tidak cocok dapat membuat kemampuan terbaiknya tidak terlihat.

Tetap rendah hati. Jangan merasa unggul dalam segala hal. Keberhasilan di satu bidang tidak otomatis berarti mampu menguasai semua bidang. Selalu ada situasi di mana kita perlu belajar dari orang lain.

Jangan berkecil hati jika belum berhasil Jika seseorang terus gagal, bisa jadi masalahnya bukan karena ia tidak berbakat, melainkan karena belum menemukan “laut”-nya, tempat di mana kemampuan dan kesempatan bertemu.

Keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh konteks tempat kemampuan itu digunakan. Karena itu, penting untuk mengenali kekuatan diri, memilih lingkungan yang mendukung, menghargai kelebihan orang lain di bidangnya masing-masing, dan tetap rendah hati karena setiap orang memiliki “laut” dan “darat” yang berbeda.