
Harits Setyawan, Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi Periode 2026-2031
Berisi tentang berita dari redaksi ITERA Press.

Harits Setyawan, Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi Periode 2026-2031

Harits Setyawan, dosen Institut Teknologi Sumatera terpilih sebagai Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi periode 2026-2031. Rupanya, Ia telah lama menggeluti dunia editorial, mulai dari editor naskah, editor substantif, dan hingga editor in chief. Sebagai salah satu pendiri dan sekaligus Pemimpin Redaksi Pertama Itera Press (2020-2021), Harits telah berhasil meluncurkan berbagai program unggulan seperti kolaborasi menulis dosen dan mahasiswa, seminar dan pelatihan penulisan buku, penyusunan buku bunga rampai, terbitkan buku dalam bentuk cetak, pdf, dan epub, serta 1000 buku untuk Itera yang terus dijalankan sampai sekarang. Tidak heran berkat kerja keras Harits dan timnya, tercatat hingga hari ini (03 Agustus 2026) Itera Press telah sukses menerbitkan 629 buku ber-ISBN di usia yang ke 5 tahun atau lebih dari 100 buku ber-ISBN per tahun. Bahkan Itera Press juga pernah meraih penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam Pekan Penghargaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Tahun 2023.
Melalui jalur portofolio, Harits berhasil meraih predikat profesional sekaligus, yaitu Editor & Penulis Buku Non Fiksi tersertifikasi BNSP. Buku Critical Reading: English for Science and Engineering menjadi salah satu karya paling populer karena telah digunakan di berbagai kampus dan diterbitkan dalam berbagai format karena tingginya minat terhadap buku tersebut. Tidak hanya itu, ia juga memperoleh pengakuan dari Asosiasi Dosen Muda Indonesia (ADMI) sebagai dosen yang berhasil melakukan publikasi buku ber-ISBN terbanyak di Indonesia (341 buku ber-ISBN pada 2 Agustus 2026), penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia sebagai dosen dengan rentetan prestasi terbanyak di Indonesia tahun 2020-2024, dan Indonesia Book of Records sebagai dosen dengan pegalaman diterima bekerja terbanyak di Indonesia. Sementara itu di tingkat internasional, Harits dinobatkan sebagai Grand Master Asia Book of Records atas keberhasilannya melakukan penerbitan sebanyak 61 buku ber-ISBN dalam kurun waktu 1 tahun, serta dipercaya sebagai responden Times Higher Education (THE) Global Academic Reputation untuk pemeringkatan universitas di dunia.
Memiliki pengalaman diterima bekerja di 11 kampus negeri dan swasta di Indonesia, Harits sangat memahami kebutuhan publikasi buku di perguruan tinggi dan kendala-kendala yang dihadapi. Oleh sebab itu sebagai Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi periode 2026-2031, Harits ingin mendorong kampus-kampus, terutama yang ada di provinsi Lampung, agar dapat memaksimalkan publikasi buku melalui seminar dan pelatihan dengan mengangkat tema-tema penting, seperti strategi meminimalisir kemungkinan buku tidak memperoleh ISBN, memulai dan mengelola penerbit buku di kampus, penerbit sebagai unit penunjang akademik, dan tingkatkan partisipasi mahasiswa dalam publikasi. Harits optimis dengan memperkuat peran penerbit buku di perguruan tinggi serta kolaborasi yang erat antara penerbit perguruan tinggi dan penerbit non perguruan tinggi, Lampung akan mampu mengimbangi provinsi-provinsi lain yang selama ini mendominasi sebagai peraih ISBN terbanyak di Indonesia.

Harits Setyawan dalam seminar Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN
Jumat 17 Juli 2026, Itera Press menyelenggarakan seminar dengan tema “Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN. Seminar tersebut ditujukan bagi penulis, penerbit, dan masyarakat umum yang mengalami kesulitan saat mengajukan Permohonan ISBN. Pada kesempatan itu, Harits Setyawan menyampaikan pengalaman dalam merevisi buku-buku yang diterbitkan hingga memperoleh ISBN. Penjelasan diawali dengan jenis buku yang saat ini sudah tidak diberi ISBN oleh Perpusnas RI, seperti laporan penelitian dan modul. Harits menjelaskan laporan penelitian perlu dimodifikasi terlebih dahulu agar cocok untuk masyarakat umum dengan merubah sistematika penulisannya. Buku tidak disarankan menggunakan format penulisan laporan penelitian, misalnya BAB I Pendahuluan, BAB II Landasan Teori, BAB III Metode, BAB IV Hasil, BAB V Pembahasan, dan BAB VI Kesimpulan dan saran. Sementara itu, modul perlu diperbanyak materi-materinya agar tidak lebih banyak latihan daripada teori sehingga bisa menjadi buku ajar.
Menurut Harits, keseragaman penulisan juga merupakan hal yang paling sering dikomentari oleh reviewer ISBN Perpusnas RI. Penulis dan penerbit perlu memastikan judul buku ditulis sama persis di Surat Pernyataan Keaslian Karya (SPKK), cover depan, halaman judul, halaman copyright, dan kata pengantar. Selain judul buku, urutan nama-nama penulis juga harus seragam pada bagian-bagian buku tersebut. Selanjutnya untuk SPKK, Harits juga menjelaskan bahwa penulis atau editor pertama membuat surat tersebut. SPKK untuk buku non bunga rampai dibuat oleh penulis pertama dan SPKK untuk buku bunga rampai dibuat oleh editor pertama. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan materai dalam SPKK. Materai temple digunakan untuk cap dan tanda tangan basah, sedangkan e-materai digunakan untuk cap dan tanda tangan digital. Penggunaan kedua jenis materai tersebut tidak boleh di-mixed atau gabungkan karena akan diminta revisi oleh reviewer buku Perpusnas RI yang dapat menyebabkan penulis dan penerbit harus membuat SPKK ulang.

Apabila terdapat penulis dosen dan mahasiswa, Harits menyarankan agar buku tidak terlalu tebal karena akan lebih mudah menemukan letak kesalahan dan memperbaikinya. Jika terdapat banyak naskah, bisa dibuat menjadi beberapa buku. Terkadang mahasiswa mencatumkan informasi seperti Nomor Induk Mahasiswa (NIM), program studi, mata kuliah, dan nama kelompok yang mengindikasikan bahwa buku berasal dari aktifitas atau tugas perkuliahan sehingga tidak diberi ISBN oleh Perpusnas RI. Dalam sesi tanya jawab, Harits menyampaikan penulis dan penerbit tidak perlu khawatir dengan desain dan layout buku karena reviewer buku Perpusnas RI tidak mempermasalahkan hal tersebut selama buku rapih. Itera Press membebaskan penulis berkreasi dengan desain dan layout buku tetapi bagian-bagian wajib buku tetap harus ada, seperti cover buku, halaman judul, halaman copyright, pendahuluan/ kata pengantar, daftar isi, isi buku, dan synopsis buku. Penulis juga boleh menulis buku sepenuhnya dalam Indonesia maupun bahasa Asing.

Dunia penerbitan terus berkembang seiring dengan hadirnya berbagai regulasi baru mengenai penerbitan buku dan pengajuan ISBN. Kesalahan dalam memahami ketentuan yang berlaku dapat menyebabkan proses penerbitan menjadi lebih lama atau bahkan pengajuan ISBN ditolak. Melalui seminar “Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN”, peserta akan memperoleh pemahaman komprehensif mengenai kebijakan terbaru ISBN, persyaratan yang harus dipenuhi, serta strategi praktis agar proses pengajuan berjalan lebih cepat, tepat, dan sesuai regulasi. Seminar ini sangat direkomendasikan bagi dosen, peneliti, guru, mahasiswa, penerbit, maupun masyarakat umum yang ingin menerbitkan buku secara profesional dan memiliki ISBN. Scan QR Code atau klik Tautan untuk bergabung (terbuka untuk umum).
Waktu:
Jumat, 17 Juli 2026
Pukul 13.30 – 15.00 WIB
Google Meet:
https://meet.google.com/txy-guom-wbh

Harits Setyawan dalam seminar ISBN & SSKCKR: Memahami ISBN dan SSKCKR untuk Tata Kelola Penerbitan yang Profesional
Dalam upaya mendukung kelancaran Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) ke Perpusnas RI dan Perpusda, Itera Press menyelenggarakan seminar dengan tema ISBN & SSKCKR: Memahami ISBN dan SSKCKR untuk Tata Kelola Penerbitan yang Profesional. Pada kesempatan tersebut, Harits Setyawan menjelaskan SSKCKR ke Perpusnas RI untuk buku-buku elektronik dilakukan melalui website: https://sakedap.perpusnas.go.id/ dengan akun penerbit. Terdapat 2 dokumen yang diperlukan, yaitu buku lengkap dan cover buku. Kedua dokumen tersebut diberi nama sesuai dengan nomor ISBN buku. Setelah berhasil diunggah, terdapat beberapa data yang perlu dilengkapi seperti jumlah halaman untuk preview, harga buku, tanggal terbit, dan bagaimana buku akan diberdayagunakan di Perpusnas RI.
Pada laman Sakedap, terdapat Daftar Koleksi Ditinjau untuk buku-buku elektronik yang dikirim oleh penerbit. Apabila terdapat permasalahan, buku akan masuk ke dalam Daftar Koleksi Bermasalah. Dari pengalaman Itera Press, permasalahan-permasalahan yang umum terjadi yaitu nomor halaman yang tidak sesuai, judul tulisan yang tidak sama persis antara daftar isi dan isi buku, serta cover buku yang tidak sama persis dengan yang tercantum di website penerbit. Apabila buku diterima, buku tersebut akan masuk ke dalam Daftar Koleksi Diterima dan penerbit dapat mengunduh tanda terima dari Perpusnas RI. Melalui laman Sakedap, penerbit juga bisa mengajukan permohonan permintaan file-file buku yang sudah diterima oleh Perpusnas RI apabila suatu saat diperlukan kembali.

Untuk buku cetak, penerbit mengirim hardcopy buku tersebut; 2 eksplar ke Perpusnas RI dan 1 eksplar ke Perpusda untuk setiap judul buku. Tanda terima buku cetak dapat diambil di Perpusnas RI dan Perpusda apabila penerbit datang langsung atau dikirim via email apabila SSKCKR secara langsung tidak memungkinkan. Setiap tahun, Perpusnas RI menyelenggarakan Pekan Penghargaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam untuk mengapresiasi penerbit-penerbit yang disiplin dalam melaksanakan kewajiban SSKCKR. Pada tahun 2023, Itera Press pernah meraih penghargaan dalam pekan penghargaan tersebut pada kategori Produsen Karya Rekam.

Jangan lewatkan Seminar “ISBN & SSKCKR” yang akan membahas secara komprehensif proses pengurusan ISBN, pengenalan SSKCKR, serta tata kelola penerbitan yang sesuai dengan regulasi terkini. Dapatkan wawasan langsung dari narasumber berpengalaman dan tingkatkan kompetensi Anda di dunia kepenulisan dan penerbitan.
Hari/ Tanggal: Kamis/ 16 Juli 2026
Waktu: 08.00 – 09.40 WIB
Tempat: Daring (Online)
Link: https://meet.google.com/yrf-mwdh-tqa

Selasa, 12 Mei 2026, Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2026 sebagai upaya mendukung pencapaian prioritas pembangunan nasional, khususnya dalam penguatan budaya literasi sebagai fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia pada periode RPJMN Tahun 2025–2029. Kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk melakukan sinkronisasi kebijakan, program, dan kegiatan pengembangan perpustakaan serta literasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sekaligus mendorong penguatan literasi dalam perencanaan pembangunan sumber daya manusia. Rakornas dengan tema ”Mengukuhkan Sinergi Program Perpustakaan dan Literasi” ini difokuskan pada penguatan sinergi lintas sektor dan lintas tingkatan pemerintahan dalam mendukung integrasi program perpustakaan dan literasi ke dalam dokumen perencanaan pembangunan, baik nasional maupun daerah.

Itera Press, diwakili oleh Harits Setyawan, menyerahkan 14 buku keilmuan kepada UPA Perpustakaan Institut Teknologi Sumatera dalam rangka mendukung pengembangan koleksi dan akses mahasiswa terhadap buku-buku terbaru. Buku-buku tersebut merupakan luaran dari hibah keilmuan yang diselenggarakan oleh LPPM Itera bekerja sama dengan Itera Press. M. Alvien Ghifari, S.Si., M.Sc., kepala UPA Perpustakaan Itera menyambut baik sinergi yang dilakukan dalam mengembangkan literasi dan berharap kegiatan seperti itu dapat menjadi agenda yang rutin. Tidak hanya itu, dalam rangka menjalankan kewajiban Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR), Itera Press juga mengirim buku-buku itu ke Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Adapun buku-buku tersebut yaitu; (1) Sains dan Teknologi Kosmetik Tropikal, (2) Kimia Hayati Sediaan Alam: Biodiversitas Senyawa Organik Bahan Alam, (3) Apresiasi Keindahan dan Makna dalam Arsitektur Lanskap, (4) Pengantar Geografi Lingkungan, (5) Material Termaju dan Aplikasinya di Bidang Teknik Elektro dan Energi Baru Terbarukan, (6) Teknologi Pengolahan Legum, (7) Serealia dan Umbi, (8) Petrofisik dan Karakteristik Batuan Reservoir, (9) Nutrisi dalam Molekul: Panduan Biokimia Pangan Kontemporer, (10) Teknologi Sensor dalam Sistem Instrumentasi: Transisi Sinyal, Basis Data, dan Aplikasi, (11) Pengantar Pencemaran Udara, (12) Isolasi Dalam Sistem Tegangan Tinggi, (13) Pengembangan dan Implementasi Teknologi Geospasial di Bidang Infrastruktur, dan (14) Kapita Selekta Informatika: Tren, Teknologi, dan Implementasi.

Dukung peningkatan Sinta Score penulis, program studi, dan kampus, Itera Press terbitkan buku hibah dalam bentuk cetak, PDF, dan ePUB. Sebanyak 42 buku ber-ISBN hasil dari Hibah Keilmuan yang diselenggarakan oleh LPPM Itera bekerja sama dengan Itera Press telah selesai disampaikan kepada penulis. Buku-buku dalam bentuk PDF & ePUB dikirim melalui email, sedangkan buku dalam bentuk cetak diserahkan langsung kepada penulis. Harits Setyawan, koordinator ISBN & SSKCKR Itera Press, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang telah diamanahkan kepada Itera Press untuk mengedit, melayout, mendesain cover, menerbitkan, dan hingga mencetak buku-buku hibah keilmuan tersebut. Ia berharap kerja sama yang dilakukan akan semakin mempererat sinergi lembaga dan unit-unit yang ada di kampus Institut Teknologi Sumatera. Lebih lanjut lagi Harits menjelaskan di tahun 2025, Itera Press berhasil menerbitkan sebanyak 166 buku ber-ISBN. Pencapaian tersebut dapat diraih tentu berkat dukungan yang besar dari lembaga, unit, dan civitas akademika Itera. “Kami berkeinginan dapat menerbitkan 200 buku ber-ISBN dalam kurun waktu 1 tahun dan optimis hal itu dapat diwujudkan dengan bekerja sama. Bersama, kita mampu mengukir sejarah”, tuturnya.

Bangga! Itera Press berhasil terbitkan 166 buku ber-ISBN dalam kurun waktu 1 tahun. Dari jumlah tersebut, 128 buku berasal dari penulis yang berhomebase di Institut Teknologi Sumatera dan 38 buku berasal dari penulis yang berhomebase di kampus-kampus lain. Sebanyak 14 buku diterbitkan dalam bentuk cetak dan 152 buku diterbitkan dalam bentuk e-book: PDF & ePUB. Hingga hari ini, 19 Januari 2026, Itera Press telah berhasil menerbitkan 540 buku ber-ISBN di usia 5 tahun. Dengan jumlah tersebut, maka rata-rata Itera Press menerbitkan lebih dari 100 buku per tahun. Pencapaian tersebut tentu tidak lepas dari kerja keras tim Itera Press dan dukungan penuh civitas akademika Itera. “Di tahun 2025, Itera Press tidak hanya menerbitkan buku-buku yang bersifat mandiri tetapi juga buku-buku hibah: Hibah Buku Keilmuan LPPM Itera & Hibah Buku Ajar Fakultas Sains. Selain seminar dan pelatihan, Itera Press juga menyelenggarakan program menerbitkan buku bunga rampai gratis untuk penulis-penulis di Indonesia. Kami menargetkan Itera Press mampu menerbitkan 200 buku ber-ISBN per tahun. Dengan demikian, 1000 buku untuk Itera dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun dapat segera tercapai”, tutur Harits Setyawan, koordinator ISBN & SSKCKR Itera Press.