Write It Right: Menguasai Pola Kalimat Sederhana dalam Bahasa Inggris

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa, UPA Bahasa Itera dengan bangga menyelenggarakan seminar eksklusif bertajuk “Write It Right: Menguasai Kalimat Sederhana dalam Bahasa Inggris”. Acara ini akan diselenggarakan pada Rabu, 7 Oktober 2026, pukul 08.25 di ruang E313, Gedung Bandar Lampung (Gedung E). Kami menghadirkan Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., seorang pakar penulisan dan publikasi buku, sebagai pembicara utama. Melalui seminar ini, kami berkomitmen membantu para mahasiswa mengatasi kendala tata bahasa (grammar) serta penulisan kalimat sederhana dalam bahasa Inggris. Pendaftaran gratis dan direkomendasikan bagi seluruh mahasiswa semester akhir.

Karya Terbaik Lahir dari Edisi Pertama yang Berani Menyapa Dunia

Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., dalam Seminar “Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi Buku di Kalangan Mahasiswa”

Kamis, 24 September 2026, Itera Press dan IKAPI Lampung berkolaborasi menyelenggarakan seminar bertema ” Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi di Kalangan Mahasiswa”. Seminar tersebut ditujukan untuk mendukung optimalisasi potensi publikasi buku di perguruan tinggi. Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa rasio ideal dosen dan mahasiswa yaitu antara 1: 20 hingga 1: 30 sesuai dengan bidang ilmu. Apabila 4 orang dari mahasiswa-mahsiswi tersebut menerbitkan buku, kampus telah meningkatkan publikasi 4 kali lipat dari jumlah publikasi yang dihasilkan oleh dosen. Harits menyadari potensi tersebut ketika ia menjadi Pimred Itera Press pada tahun 2020 -2021.

Pada saat itu, target publikasi yang dipercayakan kepadanya adalah Itera Press mampu menerbitkan ininimal 20 buku ber-ISBN dalam kurun waktu 1 tahun. Untuk mecapat target publikasi tersebut, Harits mengundang rekan-rekan dosen di prodi di mana ia bertugas dan prodi-prodi lain di kampus Itera untuk menerbitkan buku. Tidak hanya itu, ia juga melakukan sosialisasi ke kampus-kampus lain bahwa telah berdiri penerbit kampus Itera yang akan membantu dosen-dosen dalam menerbitkan buku. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Bahkan, 3 buku pertama Itera Press harus ditulis oleh Harits dan rekannya agar Itera Press dapat mendaftar sebagai anggota IKAPI. Akhirnya di tahun itu, yakni 2020, Itera Press hanya berhasil menerbitkan 3 buku ber-ISBN.

Suatu ketika setelah kelas, di lemari prodi, Harits melihat plakat penghargaan yang diperolehnya sebagai narasumber dalam kegiatan berjudul “Pelatihan Kepenulisan Sastra Kreatif” yang diselenggarakan oleh Komunitas Aspirasi Kepeminatan Sastra Itera (Aksara) pada 2 April – 15 Mei 2019. Ia tersadar bahwa menulis adalah sarana mengekspresikan diri dan hobi yang menyenangkan tidak hanya bagi dosen tetapi juga mahasiswa. Lalu, Harits pun meluncurkan program “Kolaborasi Menulis Dosen dan Mahasiswa” yang diawali dengan menggandeng dosen-dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris dan mahasiswa-mahasiswi Tahap Persiapan Bersama (TPB) yang mengambil mata kuliah tersebut. Program tersebut mendapat respons yang sangat baik dan untuk pertama kalinya, pada tahun 2021, Itera Press berhasil menerbitkan lebih dari 20 buku ber-ISBN dalam kurun waktu 1 tahun.

Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., dan Peserta Seminar “Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi Buku di Kalangan Mahasiswa”

“Dosen mempublikasikan tulisan adalah tuntutan profesi tetapi mahasiswa mempublikasikan tulisan adalah prestasi”, ucap Harits mendukung mahasiswa-mahasiswi peserta seminar untuk tidak ragu mempublikasikan karya mereka. Rupanya, Ia juga pernah mengalami perasaan ragu dan khawatir untuk mempublikasikan tulisan-tulisannya pada saat masih berstatus sebagai mahasiswa S1 yang berakibat pada hilangnya tulisan-tulisan tersebut karena kerusakan perangkat elektronik. Harits menjelaskan kendala seperti itu mungkin sudah jarang terjadi saat ini karena kita bisa mencadangkan data secara daring tetapi ada hal yang tidak akan bisa kembali, yaitu masa-masa sebagai mahasiswa S1. Setelah menekuni suatu profesi, misalnya menjadi dosen di perguruan tinggi, mempublikasikan tulisan adalah kewajiban. Bagi dosen, itu adalah hal biasa tetapi berbeda ketika mahasiswa mempublikasikan tulisan, setidaknya artikel tentang pencapaian mahasiswa tersebut akan diterbitkan di laman penerbit buku. Sekarang ini, di mana orang di seluruh dunia menggunakan mesin pencari (penelusuran website) untuk menemukan informasi, tentu itu akan berdampak positif pada rekognisi penulis secara global.

Harits mengajak peserta seminar untuk tidak memandang sebelah mata buku-buku fiksi. Menurutnya, justru buku-buku tersebut berpotensi besar meledak di pasar daripada buku-buku non fiksi. Kita mengenal The Witcher, Journey to the West, Harry Potter, dan banyak karya fiksi lainnya tidak hanya diadaptasi dalam bentuk film tetapi juga video game. Belum kita temukan ada dalam sejarah di mana buku Grammar/ Tata Bahasa dalam Bahasa Inggris dan buku-buku non fiksi lainnya diangkat menjadi film atau video game. Oleh sebab itu, mahasiswa dapat memulai tulisan dengan berbagi kisah-kisah inspiratif yang pernah mereka alami selama masa-masa sekolah, pantun dan puisi yang mereka merasa senang ketika membuatnya, atau hal-hal lain yang dekat dengan keseharian mereka. Lebih lanjut lagi Harits menjelaskan bahwa tidak seperti artikel jurnal, buku dapat terus disempurnakan melalui edisi-edisi berikutnya. Keterampilan menulis bukanlah bakat lahir. Edisi pertama buku hadir untuk menempa jemari dan mengasah kemampuan menulis kita. “Karya terbaik tidak lahir dari menunggu kata sempurna tetapi dari edisi pertama yang berani menyapa dunia’, tuturnya.

Buku dapat berasal dari luaran mata kuliah, tugas akhir, atau aktifitas dari unit kegiatan mahasiswa yang sudah dimodifikasi menjadi buku yang layak dikonsumsi oleh masyarakat umum. Apabila dihasilkan dari kolaborasi menulis dosen dan mahasiswa, di dalam buku tersebut, kepengarangan dapat berupa mahasiswa sebagai penulis utama dan dosen sebagai penulis pendamping atau sebaliknya. Selain itu, buku juga dapat ditulis sepenuhnya oleh mahasiswa atau dosen. Dalam upaya membangun budaya menulis dan publikasi buku di kalangan mahasiswa, Itera Press rutin melakukan seminar dan pelatihan, baik yang diinisiasi oleh tim Itera Press sendiri, maupun seminar dan pelatihan di mana tim Itera Press diundang sebagai narasumber. Apabila memerlukan pendampingan, penulis juga dapat berkunjung ke ruangan Itera Press di Gedung Kuliah Umum (GKU) 1 Lantai 4, depan Perpustakaan Itera, untuk berdiskusi terkait penulisan buku. Agar dapat menerbitkan buku, civitas akademika Itera perlu mengirim naskah dan surat pernyataan keaslian karya (SPKK) melalui email: [email protected]. Panduan penyusunan naskah dan berkas yang diperlukan dapat diunduh di laman: press.itera.ac.id.

Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi Buku di Kalangan Mahasiswa

IKAPI Lampung & Itera Press proudly present:
“Dari Kampus untuk Dunia: Membangun Budaya Menulis dan Publikasi Buku di Kalangan Mahasiswa“
Narasumber: Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi

Tanggal: Kamis 24 September 2026
Waktu: 08.00 – 09.40 WIB
Tempat: Online
Link: https://meet.google.com/wur-rbyw-dvn

Ilmu tidak selalu harus datang dengan ketakutan tetapi dapat tumbuh bersama rasa aman, dukungan, dan kepercayaan

Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., Koordinator ISBN & SSKCKR Itera Press

Senyum seorang pendidik bukan sekadar lengkung di wajah, melainkan cahaya yang membuat ruang kelas yang dingin terasa lebih hangat. Dari senyum itu, peserta didik belajar bahwa ilmu tidak selalu harus datang dengan ancaman, hukuman, dan ketakutan tetapi dapat tumbuh bersama rasa aman, dukungan, dan kepercayaan.

Peran pendidik dalam proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga dengan suasana emosional yang dibangun di dalam kelas. Senyum pendidik merupakan simbol keramahan, keterbukaan, dan penerimaan. Ketika seorang pendidik menyambut peserta didik dengan senyum yang tulus, ia sebenarnya sedang menyampaikan pesan tanpa kata bahwa kelas adalah tempat yang aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Dengan demikian, senyum bukan sekadar ekspresi wajah, tetapi bagian dari komunikasi yang dapat memengaruhi perasaan dan kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.

“Ruang kelas yang dingin” tidak selalu berarti ruangan dengan suhu rendah, tetapi dapat menggambarkan suasana belajar yang kaku, tegang, monoton, atau penuh jarak antara pendidik dan peserta didik. Sementara itu, “cahaya” menggambarkan kehadiran positif yang mampu mengubah suasana tersebut. Seorang pendidik yang ramah, menghargai peserta didik, dan mampu menunjukkan ekspresi yang menyenangkan dapat membuat kelas terasa lebih hidup dan manusiawi. Kehangatan tersebut membantu menciptakan hubungan yang lebih positif sehingga peserta didik tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga merasa diterima secara emosional.

Dalam praktik pendidikan, ketegasan memang tetap diperlukan, tetapi ketegasan berbeda dengan ancaman. Peserta didik dapat belajar disiplin karena memahami alasan di balik aturan, bukan semata-mata karena takut mendapatkan hukuman. Ketika pembelajaran terlalu banyak menggunakan ancaman dan ketegangan, peserta didik mungkin menjadi patuh, tetapi belum tentu tumbuh rasa ingin tahu, keberanian bertanya, kreativitas, dan yang terpenting rasa cinta terhadap proses belajar.

Rasa aman, dukungan, dan kepercayaan menunjukkan fondasi pembelajaran yang lebih positif. Rasa aman membuat peserta didik tidak takut menyampaikan pendapat atau mengakui bahwa mereka belum memahami suatu materi. Dukungan membuat mereka merasa bahwa kesulitan bukan alasan untuk menyerah, melainkan bagian dari proses belajar. Sementara itu, kepercayaan membuat peserta didik merasa bahwa pendidik melihat mereka sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk berkembang. Dalam suasana seperti ini, kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan yang memalukan, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pendidik tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar. Senyum, sapaan, perhatian, cara berbicara, dan sikap menghargai peserta didik merupakan bagian dari proses pendidikan yang sering kali tidak tertulis dalam RPS, tetapi sangat menentukan bagaimana peserta didik mengalami pembelajaran. Seorang pendidik mungkin tidak selalu dapat mengingatkan kembali seluruh materi yang pernah diajarkan, tetapi suasana yang ia ciptakan di dalam kelas dapat menancapkan jejak yang dalam dan tak terlupakan.

DAY 4 (CUI) PPLK ITERA 2026

Rangkaian CUI pada hari terakhir PPLK ITERA 2026 berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Berbagai kegiatan dan pertunjukan dihadirkan untuk memberikan pengalaman yang berkesan bagi mahasiswa baru.

Kegiatan diawali dengan pengumuman juara 1, 2, dan 3 karya dari Good Day Coffee sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswa baru yang telah berpartisipasi dan menghasilkan karya terbaik.

Selanjutnya, acara dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITERA, di antaranya Pramuka, Saibatin, English Unit for ITERA, serta berbagai UKM lainnya. Pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat beragam wadah pengembangan minat, bakat, dan kreativitas di ITERA.

Sebagai penutup, CUI menghadirkan konser spesial dari The Adams yang berhasil menciptakan suasana semakin semarak. Antusiasme mahasiswa baru sepanjang penampilan menjadikan konser ini sebagai penutup yang berkesan dalam rangkaian PPLK ITERA 2026.

Menjadi Kecil adalah Syarat Mutlak yang Harus Dilalui Sebelum Menjadi Besar

Dr. Harits Setyawan, S.Pd., M.Pd., Koordinator ISBN dan SSKCKR Itera Press

“Every large tree in the world used to be young and small. Don’t be discouraged and keep growing”. Kalimat tersebut berbicara langsung kepada hati kita melalui analogi sebuah pohon.

Pohon raksasa yang hari ini berdiri kokoh menembus awan, dulunya adalah sebutir benih yang terkubur di dalam tanah. Ia tidak langsung terlihat hebat. Ia memulai perjalanannya dalam kesunyian, berjuang menembus tanah hanya untuk menumbuhkan selembar daun kecil. Jika kamu merasa sedang berada di bawah, tidak terlihat, atau sedang berjuang sendirian, ingat bahwa itu bukanlah akhir. Itu adalah fase awal dari sebuah pertumbuhan.

Seringkali kita merasa berkecil hati melihat orang lain yang sudah mapan, sukses, dan tampak begitu besar. Kita lalu memandang diri sendiri dan merasa tidak ada apa-apanya. Kalimat ini dengan lembut berbisik: “Jangan layu sebelum berkembang.” Orang-orang hebat yang kamu kagumi hari ini, dulunya juga pernah bingung, pernah gagal, dan pernah sulit. Menjadi kecil bukanlah sebuah cacat atau cela. Itu adalah syarat mutlak yang harus dilalui sebelum menjadi besar.

Pohon tidak pernah berhenti tumbuh. Mereka menahan badai, melewati musim kering, dan terus mengakar ke dalam tanah sedalam mungkin. “Keep growing” adalah pesan agar kamu tidak menyerah pada keadaanmu yang sekarang. Setiap buku yang kamu baca, setiap air mata yang kamu usap, setiap kegagalan yang kamu perbaiki, dan setiap usaha kecil yang kamu lakukan hari ini, meski tidak dilihat oleh orang lain, adalah nutrisi yang sedang membesarkan jiwamu.

Jangan hukum dirimu hari ini hanya karena kamu belum menjadi “pohon yang rindang”. Hargai prosesmu. Tersenyumlah dan katakan pada dunia: “Saat ini aku mungkin kecil dan tak terlihat, tapi suatu saat aku akan mencapai versi terbaikku.” Tetaplah bertahan dan teruslah bertumbuh.

Penyusunan Bunga Rampai 2026: Zoonosis, Lingkungan, dan Virus

Itera Press proudly presents

“Zoonosis, Lingkungan, dan Virus”

Mengundang Bapak dan Ibu untuk ikut dalam penyusunan buku bunga rampai dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Petunjuk penulisan naskah dapat diunduh melalui link berikut: https://s.itera.id/bookchaptervirus
  2. Naskah dikirim ke email: [email protected]
  3. Deadline pengiriman naskah: 31 Desember 2026,
  4. Penulis akan mendapatkan softcopy buku,
  5. Gratis untuk seluruh penulis.

Penyusunan Bunga Rampai 2026: Cerdas Mengelola Kelas

Itera Press proudly presents

“Cerdas Mengelola Kelas“

Mengundang Bapak dan Ibu untuk ikut dalam penyusunan buku bunga rampai dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Naskah berisi tentang gagasan atau pengalaman dalam mengelola kelas,
  2. Naskah bergenre argumentatif (thesis statement, argument, & kesimpulan) dan bukan artikel penelitian,
  3. Format file docx (Microsoft Word), A4, Times New Roman 12, dan spasi 1.15,
  4. Naskah dikirim ke email: [email protected],
  5. Deadline pengiriman naskah: 31 Desember 2026,
  6. Urutan penulis berdasarkan waktu pengiriman naskah,
  7. Penulis akan mendapatkan softcopy buku,
  8. Gratis untuk seluruh penulis.

Ajarkan agar Tidak Berhenti padamu dan Tuliskan agar Tetap Hidup Setelahmu

“Ajarkan agar tidak berhenti padamu” berpesan tentang mewariskan ilmu dan gagasan. Ada filosofi yang kuat di dalamnya, yaitu guru yang hebat tidak menciptakan pengikut, tetapi melahirkan penerus. Jadi, keberhasilan mengajar bukan ketika murid bergantung selamanya kepada gurunya, melainkan ketika murid mampu berdiri sendiri, berpikir sendiri, bahkan melampaui gurunya.

“Tuliskan agar tetap hidup setelahmu” berpesan tentang meninggalkan jejak pemikiran. Manusia memiliki keterbatasan waktu. Kita bisa mengajar puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang, tetapi pada akhirnya kita tidak akan selamanya berada di tengah-tengah mereka. Karena itu, menulis bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis adalah cara memperpanjang hidup sebuah gagasan. Seseorang mungkin telah tiada, tetapi pemikirannya masih dapat hadir dalam kehidupan melalui tulisan yang ia tinggalkan.

Dengan demikian, ketika kita mengajar, kita memberikan ilmu kepada orang-orang yang hidup bersama kita dan ketika kita menulis, kita memungkinkan suara kita tetap terdengar bahkan saat kita sudah tidak lagi bersama mereka.