“Ajarkan agar tidak berhenti padamu” berpesan tentang mewariskan ilmu dan gagasan. Ada filosofi yang kuat di dalamnya, yaitu guru yang hebat tidak menciptakan pengikut, tetapi melahirkan penerus. Jadi, keberhasilan mengajar bukan ketika murid bergantung selamanya kepada gurunya, melainkan ketika murid mampu berdiri sendiri, berpikir sendiri, bahkan melampaui gurunya.
“Tuliskan agar tetap hidup setelahmu” berpesan tentang meninggalkan jejak pemikiran. Manusia memiliki keterbatasan waktu. Kita bisa mengajar puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang, tetapi pada akhirnya kita tidak akan selamanya berada di tengah-tengah mereka. Karena itu, menulis bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis adalah cara memperpanjang hidup sebuah gagasan. Seseorang mungkin telah tiada, tetapi pemikirannya masih dapat hadir dalam kehidupan melalui tulisan yang ia tinggalkan.
Dengan demikian, ketika kita mengajar, kita memberikan ilmu kepada orang-orang yang hidup bersama kita dan ketika kita menulis, kita memungkinkan suara kita tetap terdengar bahkan saat kita sudah tidak lagi bersama mereka.
Harits Setyawan dengan salah satu karyanya, Skillfully Written Paragraphs, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2020
Sebuah buku tidak harus mencapai bentuk yang paling ideal sejak edisi pertamanya. Yang terpenting, buku tersebut sudah memberikan manfaat, memenuhi tujuan penerbitannya, dan dapat terus dikembangkan berdasarkan pengalaman, masukkan pembaca, serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Edisi pertama adalah awal, bukan akhir. Buku dapat menjadi sebuah karya yang terus berkembang. Setelah diterbitkan, penulis dapat menemukan kekurangan, menerima kritik, atau memperoleh perspektif baru yang dapat digunakan untuk memperbaiki edisi berikutnya.
Kesempurnaan membutuhkan proses. Tidak semua kekurangan dapat diketahui sebelum buku dibaca oleh orang lain. Masukkan dari pembaca, dosen, mahasiswa, praktisi, maupun pakar dapat menunjukkan bagian yang perlu diperjelas atau diperbaiki.
Ilmu pengetahuan terus berkembang. Terutama buku akademik dan pendidikan, teori, data, regulasi, teknologi, dan praktik dapat mengalami perubahan. Karena itu, buku yang baik bukan hanya mempertahankan isi lama, tetapi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Penerbitan buku tidak harus menunggu semuanya sempurna. Jika penulis terus menunggu sampai merasa bukunya benar-benar sempurna, sebuah karya bisa tidak pernah diterbitkan. Ada titik ketika sebuah buku sudah cukup matang, layak dibaca, dan bermanfaat, sehingga pantas diterbitkan.
Edisi berikutnya menjadi ruang penyempurnaan. Kekurangan pada edisi pertama dapat diperbaiki melalui revisi, penambahan materi, pembaruan referensi, perbaikan bahasa, atau penyempurnaan desain. Karena itu, keberadaan edisi kedua, ketiga, dan seterusnya bukan berarti edisi sebelumnya gagal, tetapi menunjukkan bahwa buku tersebut berkembang.
Namun, ini bukan berarti buku boleh diterbitkan secara asal-asalan. Sebelum diterbitkan, buku tetap harus melalui proses editorial, proofreading, pengecekan referensi, validasi isi bila diperlukan, serta pemeriksaan teknis dan legalitas. Yang dimaksud adalah bahwa layak terbit tidak sama dengan harus sempurna. Buku pertama adalah fondasi; respons pembaca dan perkembangan pengetahuan menjadi bahan untuk membangun edisi yang lebih baik.
Harits Setyawan, Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi Periode 2026-2031
Sehebat apapun hiu di laut, ia hanya seekor ikan di darat. Kalimat tersebut menggunakan analogi untuk menyampaikan bahwa kemampuan seseorang sangat bergantung pada konteks atau lingkungan tempat ia berada.
Setiap orang memiliki “medan” terbaiknya. Hiu adalah predator yang sangat tangguh di laut. Kecepatan, kekuatan, dan insting berburu membuatnya berada di puncak rantai makanan. Namun, ketika berada di darat, semua keunggulan itu tidak lagi berguna. Begitu pula manusia. Seseorang bisa sangat ahli di satu bidang, tetapi belum tentu unggul di bidang lain.
Jangan menilai kemampuan seseorang hanya dari satu situasi. Ada orang yang tampak biasa saja di sekolah, tetapi luar biasa di dunia bisnis. Ada yang pendiam saat berbicara di depan umum, tetapi sangat hebat dalam menulis. Penilaian yang adil perlu mempertimbangkan apakah seseorang berada di lingkungan yang memungkinkan kemampuannya muncul.
Penting untuk menemukan lingkungan yang tepat. Potensi sering kali berkembang ketika seseorang berada di tempat yang sesuai dengan bakat, nilai, dan keahliannya. Sebaliknya, berada di lingkungan yang tidak cocok dapat membuat kemampuan terbaiknya tidak terlihat.
Tetap rendah hati. Jangan merasa unggul dalam segala hal. Keberhasilan di satu bidang tidak otomatis berarti mampu menguasai semua bidang. Selalu ada situasi di mana kita perlu belajar dari orang lain.
Jangan berkecil hati jika belum berhasil Jika seseorang terus gagal, bisa jadi masalahnya bukan karena ia tidak berbakat, melainkan karena belum menemukan “laut”-nya, tempat di mana kemampuan dan kesempatan bertemu.
Keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh konteks tempat kemampuan itu digunakan. Karena itu, penting untuk mengenali kekuatan diri, memilih lingkungan yang mendukung, menghargai kelebihan orang lain di bidangnya masing-masing, dan tetap rendah hati karena setiap orang memiliki “laut” dan “darat” yang berbeda.
Harits Setyawan, Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi Periode 2026-2031
Harits Setyawan, dosen Institut Teknologi Sumatera terpilih sebagai Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi periode 2026-2031. Rupanya, Ia telah lama menggeluti dunia editorial, mulai dari editor naskah, editor substantif, dan hingga editor in chief. Sebagai salah satu pendiri dan sekaligus Pemimpin Redaksi Pertama Itera Press (2020-2021), Harits telah berhasil meluncurkan berbagai program unggulan seperti kolaborasi menulis dosen dan mahasiswa, seminar dan pelatihan penulisan buku, penyusunan buku bunga rampai, terbitkan buku dalam bentuk cetak, pdf, dan epub, serta 1000 buku untuk Itera yang terus dijalankan sampai sekarang. Tidak heran berkat kerja keras Harits dan timnya, tercatat hingga hari ini (03 Agustus 2026) Itera Press telah sukses menerbitkan 629 buku ber-ISBN di usia yang ke 5 tahun atau lebih dari 100 buku ber-ISBN per tahun. Bahkan Itera Press juga pernah meraih penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam Pekan Penghargaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Tahun 2023.
Melalui jalur portofolio, Harits berhasil meraih predikat profesional sekaligus, yaitu Editor & Penulis Buku Non Fiksi tersertifikasi BNSP. Buku Critical Reading: English for Science and Engineering menjadi salah satu karya paling populer karena telah digunakan di berbagai kampus dan diterbitkan dalam berbagai format karena tingginya minat terhadap buku tersebut. Tidak hanya itu, ia juga memperoleh pengakuan dari Asosiasi Dosen Muda Indonesia (ADMI) sebagai dosen yang berhasil melakukan publikasi buku ber-ISBN terbanyak di Indonesia (341 buku ber-ISBN pada 2 Agustus 2026), penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia sebagai dosen dengan rentetan prestasi terbanyak di Indonesia tahun 2020-2024, dan Indonesia Book of Records sebagai dosen dengan pegalaman diterima bekerja terbanyak di Indonesia. Sementara itu di tingkat internasional, Harits dinobatkan sebagai Grand Master Asia Book of Records atas keberhasilannya melakukan penerbitan sebanyak 61 buku ber-ISBN dalam kurun waktu 1 tahun, serta dipercaya sebagai responden Times Higher Education (THE) Global Academic Reputation untuk pemeringkatan universitas di dunia.
Memiliki pengalaman diterima bekerja di 11 kampus negeri dan swasta di Indonesia, Harits sangat memahami kebutuhan publikasi buku di perguruan tinggi dan kendala-kendala yang dihadapi. Oleh sebab itu sebagai Wakil Ketua IKAPI Lampung Bidang Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi periode 2026-2031, Harits ingin mendorong kampus-kampus, terutama yang ada di provinsi Lampung, agar dapat memaksimalkan publikasi buku melalui seminar dan pelatihan dengan mengangkat tema-tema penting, seperti strategi meminimalisir kemungkinan buku tidak memperoleh ISBN, memulai dan mengelola penerbit buku di kampus, penerbit sebagai unit penunjang akademik, dan tingkatkan partisipasi mahasiswa dalam publikasi. Harits optimis dengan memperkuat peran penerbit buku di perguruan tinggi serta kolaborasi yang erat antara penerbit perguruan tinggi dan penerbit non perguruan tinggi, Lampung akan mampu mengimbangi provinsi-provinsi lain yang selama ini mendominasi sebagai peraih ISBN terbanyak di Indonesia.
Harits Setyawan dalam seminar Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN
Jumat 17 Juli 2026, Itera Press menyelenggarakan seminar dengan tema “Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN. Seminar tersebut ditujukan bagi penulis, penerbit, dan masyarakat umum yang mengalami kesulitan saat mengajukan Permohonan ISBN. Pada kesempatan itu, Harits Setyawan menyampaikan pengalaman dalam merevisi buku-buku yang diterbitkan hingga memperoleh ISBN. Penjelasan diawali dengan jenis buku yang saat ini sudah tidak diberi ISBN oleh Perpusnas RI, seperti laporan penelitian dan modul. Harits menjelaskan laporan penelitian perlu dimodifikasi terlebih dahulu agar cocok untuk masyarakat umum dengan merubah sistematika penulisannya. Buku tidak disarankan menggunakan format penulisan laporan penelitian, misalnya BAB I Pendahuluan, BAB II Landasan Teori, BAB III Metode, BAB IV Hasil, BAB V Pembahasan, dan BAB VI Kesimpulan dan saran. Sementara itu, modul perlu diperbanyak materi-materinya agar tidak lebih banyak latihan daripada teori sehingga bisa menjadi buku ajar.
Menurut Harits, keseragaman penulisan juga merupakan hal yang paling sering dikomentari oleh reviewer ISBN Perpusnas RI. Penulis dan penerbit perlu memastikan judul buku ditulis sama persis di Surat Pernyataan Keaslian Karya (SPKK), cover depan, halaman judul, halaman copyright, dan kata pengantar. Selain judul buku, urutan nama-nama penulis juga harus seragam pada bagian-bagian buku tersebut. Selanjutnya untuk SPKK, Harits juga menjelaskan bahwa penulis atau editor pertama membuat surat tersebut. SPKK untuk buku non bunga rampai dibuat oleh penulis pertama dan SPKK untuk buku bunga rampai dibuat oleh editor pertama. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan materai dalam SPKK. Materai temple digunakan untuk cap dan tanda tangan basah, sedangkan e-materai digunakan untuk cap dan tanda tangan digital. Penggunaan kedua jenis materai tersebut tidak boleh di-mixed atau gabungkan karena akan diminta revisi oleh reviewer buku Perpusnas RI yang dapat menyebabkan penulis dan penerbit harus membuat SPKK ulang.
Apabila terdapat penulis dosen dan mahasiswa, Harits menyarankan agar buku tidak terlalu tebal karena akan lebih mudah menemukan letak kesalahan dan memperbaikinya. Jika terdapat banyak naskah, bisa dibuat menjadi beberapa buku. Terkadang mahasiswa mencatumkan informasi seperti Nomor Induk Mahasiswa (NIM), program studi, mata kuliah, dan nama kelompok yang mengindikasikan bahwa buku berasal dari aktifitas atau tugas perkuliahan sehingga tidak diberi ISBN oleh Perpusnas RI. Dalam sesi tanya jawab, Harits menyampaikan penulis dan penerbit tidak perlu khawatir dengan desain dan layout buku karena reviewer buku Perpusnas RI tidak mempermasalahkan hal tersebut selama buku rapih. Itera Press membebaskan penulis berkreasi dengan desain dan layout buku tetapi bagian-bagian wajib buku tetap harus ada, seperti cover buku, halaman judul, halaman copyright, pendahuluan/ kata pengantar, daftar isi, isi buku, dan synopsis buku. Penulis juga boleh menulis buku sepenuhnya dalam Indonesia maupun bahasa Asing.
Dunia penerbitan terus berkembang seiring dengan hadirnya berbagai regulasi baru mengenai penerbitan buku dan pengajuan ISBN. Kesalahan dalam memahami ketentuan yang berlaku dapat menyebabkan proses penerbitan menjadi lebih lama atau bahkan pengajuan ISBN ditolak. Melalui seminar “Bedah Regulasi Baru: Langkah Strategis Lolos ISBN”, peserta akan memperoleh pemahaman komprehensif mengenai kebijakan terbaru ISBN, persyaratan yang harus dipenuhi, serta strategi praktis agar proses pengajuan berjalan lebih cepat, tepat, dan sesuai regulasi. Seminar ini sangat direkomendasikan bagi dosen, peneliti, guru, mahasiswa, penerbit, maupun masyarakat umum yang ingin menerbitkan buku secara profesional dan memiliki ISBN. Scan QR Code atau klik Tautan untuk bergabung (terbuka untuk umum).
Waktu: Jumat, 17 Juli 2026 Pukul 13.30 – 15.00 WIB
Harits Setyawan dalam seminar ISBN & SSKCKR: Memahami ISBN dan SSKCKR untuk Tata Kelola Penerbitan yang Profesional
Dalam upaya mendukung kelancaran Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) ke Perpusnas RI dan Perpusda, Itera Press menyelenggarakan seminar dengan tema ISBN & SSKCKR: Memahami ISBN dan SSKCKR untuk Tata Kelola Penerbitan yang Profesional. Pada kesempatan tersebut, Harits Setyawan menjelaskan SSKCKR ke Perpusnas RI untuk buku-buku elektronik dilakukan melalui website: https://sakedap.perpusnas.go.id/ dengan akun penerbit. Terdapat 2 dokumen yang diperlukan, yaitu buku lengkap dan cover buku. Kedua dokumen tersebut diberi nama sesuai dengan nomor ISBN buku. Setelah berhasil diunggah, terdapat beberapa data yang perlu dilengkapi seperti jumlah halaman untuk preview, harga buku, tanggal terbit, dan bagaimana buku akan diberdayagunakan di Perpusnas RI.
Pada laman Sakedap, terdapat Daftar Koleksi Ditinjau untuk buku-buku elektronik yang dikirim oleh penerbit. Apabila terdapat permasalahan, buku akan masuk ke dalam Daftar Koleksi Bermasalah. Dari pengalaman Itera Press, permasalahan-permasalahan yang umum terjadi yaitu nomor halaman yang tidak sesuai, judul tulisan yang tidak sama persis antara daftar isi dan isi buku, serta cover buku yang tidak sama persis dengan yang tercantum di website penerbit. Apabila buku diterima, buku tersebut akan masuk ke dalam Daftar Koleksi Diterima dan penerbit dapat mengunduh tanda terima dari Perpusnas RI. Melalui laman Sakedap, penerbit juga bisa mengajukan permohonan permintaan file-file buku yang sudah diterima oleh Perpusnas RI apabila suatu saat diperlukan kembali.
Untuk buku cetak, penerbit mengirim hardcopy buku tersebut; 2 eksplar ke Perpusnas RI dan 1 eksplar ke Perpusda untuk setiap judul buku. Tanda terima buku cetak dapat diambil di Perpusnas RI dan Perpusda apabila penerbit datang langsung atau dikirim via email apabila SSKCKR secara langsung tidak memungkinkan. Setiap tahun, Perpusnas RI menyelenggarakan Pekan Penghargaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam untuk mengapresiasi penerbit-penerbit yang disiplin dalam melaksanakan kewajiban SSKCKR. Pada tahun 2023, Itera Press pernah meraih penghargaan dalam pekan penghargaan tersebut pada kategori Produsen Karya Rekam.
Jangan lewatkan Seminar “ISBN & SSKCKR” yang akan membahas secara komprehensif proses pengurusan ISBN, pengenalan SSKCKR, serta tata kelola penerbitan yang sesuai dengan regulasi terkini. Dapatkan wawasan langsung dari narasumber berpengalaman dan tingkatkan kompetensi Anda di dunia kepenulisan dan penerbitan.
Selasa, 12 Mei 2026, Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2026 sebagai upaya mendukung pencapaian prioritas pembangunan nasional, khususnya dalam penguatan budaya literasi sebagai fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia pada periode RPJMN Tahun 2025–2029. Kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk melakukan sinkronisasi kebijakan, program, dan kegiatan pengembangan perpustakaan serta literasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sekaligus mendorong penguatan literasi dalam perencanaan pembangunan sumber daya manusia. Rakornas dengan tema ”Mengukuhkan Sinergi Program Perpustakaan dan Literasi” ini difokuskan pada penguatan sinergi lintas sektor dan lintas tingkatan pemerintahan dalam mendukung integrasi program perpustakaan dan literasi ke dalam dokumen perencanaan pembangunan, baik nasional maupun daerah.