Harits Setyawan, dosen DKV Institut Teknologi Sumatera, meraih pengakuan dari Asosiasi Dosen Muda Indonesia (ADMI) sebagai dosen yang berhasil melakukan penerbitan buku ber-ISBN terbanyak se-Indonesia. Hingga hari ini, 8 Januari 2025, tercatat Harits telah melakukan penerbitan sebanyak 225 buku dan prosiding ber-ISBN.
Karya-karya dosen yang hingga kini memiliki pengalaman diterima bekerja di 11 kampus negeri dan swasta di Indonesia tersebut tidak hanya digunakan di kampus Institut Teknologi Sumatera tetapi kampus-kampus lain di mana ia pernah bekerja sebelumnya dan bahkan hingga kampus di luar pulau Sumatera. Selain buku-buku yang berkaitan dengan perkuliahan, Harits juga menulis buku-buku populer, seperti kumpulan kisah-kisah inspiratif, cerita bergambar, serta pantun dan puisi.
Dalam menulis, Harits tidak selalu sendiri. Justru ia sering menulis bersama-sama, baik dengan rekan-rekan dosen maupun mahasiswa-mahasiswi di kampus. Program kolaborasi menulis dosen dan mahasiswa yang digagasnya di tahun 2020 ketika ia masih menjadi Pemimpin Redaksi Itera Press terus dijalankan hingga saat ini dan perlahan membuahkan hasil. Salah satunya yaitu keberhasilan prodi DKV Itera meraih peringkat 1 Sinta Score 3Yr dan Overall dari 120 prodi Desain Komunikasi Visual se-Indonesia di tahun 2024.
Harits mengucapkan terima kasih kepada Institut Teknologi Sumatera Press yang telah membantu menerbitkan buku-buku karya civitas akademika Itera. Keberadaan Itera Press memungkinkan civitas akademika Institut Teknologi Sumatera menerbitkan buku sebanyak apapun tanpa terbebani oleh biaya sehingga rekor sebagai dosen yang berhasil melakukan penerbitan buku ber-ISBN terbanyak se-Indonesia itu pun dapat diraih.
Senin 16 Desember 2024, Perpusnas RI melaksanakan sosialisasi aplikasi baru layanan ISBN dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan. Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan bahwa Perpusnas RI akan melakukan migrasi data ke aplikasi yang baru. Oleh sebab itu, penerbit buku di seluruh Indonesia tidak dapat mengajukan permohonan ISBN baru hingga awal tahun 2025. Meskipun demikian, buku-buku yang sudah masuk ke dalam pengajuan ISBN dan mengalami revisi dapat diperbaiki hingga tanggal 28 Desember 2024.
Mewakili Institut Teknologi Sumatera Press, Harits Setyawan koordinator Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) Itera Press dan Doni Alfaruqy reviewer buku Itera Press menghadiri acara tersebut. Dalam sosialisasi yang berlangsung pukul 08.30-11.30 itu dijelaskan cara menggunakan aplikasi baru layanan ISBN. Selain itu, fitur-fitur baru yang sebelumnya tidak ada di aplikasi layanan ISBN yang lama juga dikenalkan kepada peserta. “Kami sangat terbantu dengan adanya sosialisasi tersebut dan semoga aplikasi yang baru dapat memperlancar permohonan ISBN”, tutur Harits.
Harits Setyawan & Doni Alfaruqy dalam ajang Anugerah Humas Itera 2024
Selasa 26 November 2024, kampus Institut Teknologi Sumatera menyelenggarakan ajang Anugerah Humas Itera (AHI) 2024 dalam rangka mengapresiasi fakultas, unit, lembaga, program studi, civitas akademika, dan media partner yang berprestasi dalam mewujudkan sinergi untuk kampus bermartabat. Acara yang berlangsung di Aula Gedung Kuliah Umum (GKU) 2 tersebut mengangkat kategori pengelola laman terbaik, siaran pers terbaik, media sosial terbaik, kerja sama terbaik, insan humas terfavorit, dan media partner terbaik. Itera Press berhasil menyabet 2 penghargaan sekaligus, yaitu sebagai Terbaik 2 (Silver Winner) untuk kategori Siaran Pers dan Terbaik 3 (Bronze Winner) untuk kategori Pengelola Laman. Mewakili tim Itera Press, Harits Setyawan, Koordinator ISBN dan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) Itera Press dan Doni Alfaruqy, Reviewer Buku Itera Press, menerima penghargaan tersebut. Rupanya, ini bukan kali pertama Itera Press meraih penghargaan di Ajang Anugerah Humas Itera. Pada tahun sebelumnya, Itera Press juga berhasil menyabet penghargaan sebagai Terbaik 2 (Silver Winner) untuk kategori Siaran Pers. Dengan demikian, Itera Press sudah 2 tahun berturut-turut sukses menjadi juara bertahan.
Dibantu oleh Doni Alfaruqy, Harits Setyawan mengelola website dan menulis berita-berita tentang Itera Press. Meskipun kedua dosen tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan Sistem Informasi, mereka dengan tekun belajar hingga akhirnya berhasil mengukir berbagai prestasi. “Selama bertugas di Itera Press, kami belajar banyak hal seperti mengelola website, menulis berita, mendesain cover, melayout buku, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan publikasi buku. Prestasi-prestasi yang berhasil diraih oleh Itera Press bukan karena bakat atau latar belakang pendidikan tetapi karena kemauan, kerja keras, dan dedikasi yang tinggi dari tim Itera Press. Kami berkomitmen untuk turut berkontribusi dalam membawa Institut Teknologi Sumatera menuju puncak kejayaan. Prestasi-prestasi yang berhasil diraih oleh Itera Press di tingkat kampus, nasional, dan internasional merupakan bukti keseriusan kami dalam mewujudkan komitmen tersebut”, tutur Harits. Mewakili seluruh tim Itera Press, kedua dosen tersebut mengucapkan terima kasih kepada Humas Itera yang telah mengapresiasi fakultas, unit, lembaga, program studi, dan civitas akademika berprestasi di Institut Teknologi Sumatera. Anugerah Humas Itera merupakan ajang yang sangat penting untuk terus diselenggarakan karena memupuk sikap mental positif yang diperlukan untuk mencapai Itera dan Indonesia emas.
Harits Setyawan dalam Seminar “Mengelola Penerbitan Buku di Kampus”
Senin.18 November 2024, tim Itera Press kembali mengadakan seminar yang ditujukan untuk pendidik, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan masyarakat umum. Seminar yang diselenggarakan bekerja sama dengan Alumni Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Lampung, itu mengangkat tema “Mengelola Penerbitan Buku di Kampus”. Seminar tersebut merupakan seminar & pelatihan ke-4 yang diadakan oleh Itera Press di tahun 2024 ini. Menghadirkan Harits Setyawan, pemimpin redaksi Itera Press pertama (2020-2021), dan Doni Alfaruqy, pemimpin redaksi Itera Press kedua (2022-2023) sebagai pemateri, seminar berlangsung pada pukul 10.00-11.30 WIB. Pada kesempatan itu, Harits menyampaikan tentang bagaimana mendirikan penerbit kampus. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk tim pengelola dan membuat usulan ke kampus. Setelah memperoleh surat keputusan dari pimpinan kampus, tim pengelola perlu berkoordinasi dengan TIK untuk pembuatan website penerbit. Kemudian, pendaftaran penerbit dapat dilakukan melalui laman: isbn.perpusnas.go.id. Selanjutnya, penerbit buku akan bisa mengajukan permohonan ISBN. Setiap buku yang akan diajukan harus diunggah di laman penerbit dengan menampilkan judul buku, cover depan, kepengarangan, ukuran buku, jumlah halaman, tahun terbit, dan deskripsi singkat buku. Terdapat 2 berkas yang harus diunggah oleh penerbit untuk setiap buku yang diajukan, yaitu surat permohonan dan dummy buku. Surat permohonan berisi surat permohonan, surat pernyataan keaslian karya (SPKK), dan halaman-halaman depan buku yang dijadikan 1 file dalam format PDF dengan ukuran maksimal 2 MB. Sementara itu, dummy buku merupakan buku lengkap mulai dari cover depan hingga cover belakang dalam format PDF dengan ukuran maksimal 10 MB.
Di Itera Press, seluruh berkas dikirim melalui e-mail: [email protected]. Berkas-berkas tersebut yaitu buku dan surat pernyataan keaslian karya. Selanjutnya, buku akan melalui proses review oleh tim Itera Press. Apabila tidak terdapat permasalahan, permohonan ISBN buku tersebut akan dikirim ke Perpusnas RI. Kemudian, buku akan direview oleh tim ISBN Perpusnas RI. Apabila tidak ada permintaan revisi, buku akan memperoleh ISBN dalam kurun waktu rata-rata 1 hingga 2 minggu dan paling cepat dalam 3 hari tergantung respon dari tim ISBN Perpusnas RI. Lebih lanjut lagi, Harits juga memaparkan strategi-strategi yang dilakukan dalam mengembangkan penerbitan buku di kampus. Itera Press rutin mengadakan seminar dan pelatihan untuk mendorong peningkatan publikasi buku dan sekaligus memperkenalkan penerbit yang baru menginjak usia 4 tahun itu ke masyarakat di seluruh Indonesia. Seminar dan pelatihan tersebut diselenggarakan tidak hanya melalui inisiasi dari tim Itera Press tetapi juga undangan sebagai pemateri dari pihak luar, dan kerjasama dengan penerbit di kampus lain. Lebih lanjut lagi, Itera Press juga berusaha menciptakan ekosistem di mana dosen dan mahasiswa berkolaborasi menghasilkan luaran buku. “Salah satu contohnya yaitu prodi DKV ITERA yang mengirim 14 buku ke Itera Press di tahun 2024 ini. Di ITERA, terdapat 42 program studi. Sangat besar harapannya, ekosistem seperti itu juga diterapkan oleh prodi-prodi yang lain. Apabila setiap prodi mengirim 10 buku, Itera Press akan bisa menerbitkan 420 buku per tahun. Hal tersebut akan berdampak positif bagi penulis, penerbit, program studi, dan kampus”, terang Harits Setyawan.
Doni Alfaruqy dalam seminar “Mengelola Penerbitan Buku di Kampus”
Harits juga memaparkan manfaat-manfaat yang dapat diraih oleh civitas akademika apabila memiliki penerbit buku di kampus. Yang pertama yaitu bisa memperoleh lebih dari 1 ISBN untuk sebuah buku. Perpusnas RI menyediakan ISBN untuk buku cetak dan buku elektronik sehingga buku bisa memperoleh beberapa ISBN. Namun, penerbit pada umumnya hanya mengusulkan 1 jenis ISBN saja untuk menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Itera Press bisa mengajukan 3 jenis ISBN sekaligus: ISBN cetak, PDF, dan ePUB untuk sebuah buku. Dengan demikian, Sinta Score dapat ditingkatkan hingga 3 kali lipat. Selanjutnya, memiliki penerbit buku di kampus memungkinkan civitas akademika untuk mengukir berbagai prestasi. Itera Press berhasil membawa civitas akademika Institut Teknologi Sumatera mengukir prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional, membantu prodi DKV ITERA meraih peringkat 1 Sinta Score 3Yr dan Sinta Score Overall se-Indonesia, dan meraih penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Lebih lanjut lagi, memiliki penerbit buku di kampus juga membuat civitas akademika dikenal oleh masyarakat luas. Buku-buku yang diterbitkan oleh Itera Press tidak hanya digunakan di kampus Institut Teknologi Sumatera tetapi juga kampus-kampus lain hingga luar Sumatera. Salah satu contohnya yaitu buku “Critical Reading: English for Science and Engineering” yang juga digunakan di kampus Universitas Tanjungpura, Kalimantan. Tidak hanya itu, memiliki penerbit buku di kampus juga dapat mendorong peningkatan publikasi. Civitas akademika akan terbantu dengan adanya penerbit buku di kampus karena menerbitkan buku menjadi lebih mudah dan cepat dengan dibantu oleh orang-orang yang ahli di bidang editing, desain, dan layout.
Pada sesi kedua, Doni Alfaruqy menyampaikan tentang landasan hukum terkait pengelolaan penerbitan buku berdasarkan UU RI No 3 Tahun 2017 yang mengatur tentang tugas, peran, dan fungsi dari penerbitan buku. Pemateri juga memberikan contoh-contoh terkait berbagai macam profesi yang bisa dijalankan dalam bisnis penerbitan buku, seperti penulis, editor, desainer, ilustrator dan tata letak (layouter). Harapannya, dengan materi yang disampaikan dapat membuka wawasan peserta webinar tentan peluang dan tantangan ke depan dalam proses penulisan dan penerbitan buku.
Harits Setyawan dalam seminar “Strategi Meminimalisir Kemungkinan Buku Tidak Memperoleh ISBN” yang diselenggarakan pada hari Jumat, 08 November 2024 pukul 10.00-11.30 WIB
Jumat, 08 November 2024, Itera Press mengadakan seminar daring dengan tema “Strategi Meminimalisir Kemungkinan Buku Tidak Memperoleh ISBN” dengan narasumber Harits Setyawan dan “Cara Mudah Menulis Buku Fiksi & Non Fiksi” dengan narasumber Doni Alfaruqy. Seminar-seminar tersebut diperuntukan tidak hanya untuk civitas akademika Itera tetapi juga masyarakat umum di seluruh Indonesia. Informasi seminar dan link zoom dibagikan melalui grup Facebook, WhatsApp, dan Telegram seperti Asosiasi Dosen Muda Indonesia (ADMI), Penulis Buku Indonesia (BPI), Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi (FKPT), dan grup-grup lainnya agar dapat diakses oleh siapapun yang tertarik pada bidang penulisan buku. Secara keseluruhan, terdapat 143 peserta yang mengikuti seminar-seminar tersebut. Seminar dengan pemateri Harits Setyawan diadakan pukul 10.00-11.30. Pada kesempatan itu, Harits menyampaikan pengalaman-pengalaman tentang permintaaan revisi dari reviewer buku Perpusnas RI terhadap buku-buku yang diajukan oleh Itera Press, diantaranya yaitu kekeliruan-kekeliruan dalam kelengkapan berkas, keseragaman istilah & penulisan judul, penggunaan logo, surat pernyataan keaslian karya, daftar isi & nomor halaman, serta biografi/ autobiografi penulis. Melalui pemaparan materi tersebut, diharapkan kekeliruan-kekeliruan yang sama tidak terulang kembali sehingga proses permohonan ISBN buku dapat berjalan dengan lancar.
Lebih lanjut lagi, Harits juga menyampaikan calon-calon penulis muda, termasuk dirinya di masa lalu sering tidak merasa percaya diri sehingga menunda untuk menerbitkan karya-karya mereka. Hal tersebut justru dapat berdampak buruk, seperti menghambat produktivitas dan menyulitkan penulis untuk dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, menerbitkan buku adalah kunci utama untuk meraih kesuksesan bagi penulis dan tidak seperti artikel di jurnal ilmiah, buku dapat terus disempurnakan melalui edisi-edisi berikutnya. Oleh sebab itu, rasa tidak percaya diri harus dibuang jauh-jauh. Kemudian agar tingkat kesulitan tidak terlalu berat, calon-calon penulis muda juga dapat memulai dengan menulis buku-buku fiksi yang berisi cerpen, puisi, pantun, atau pengalaman pribadi yang disamarkan. Tidak sedikit film terlaris di dunia yang berhasil menarik jutaan penonton diangkat dari kisah-kisah fiksi. Dengan demikian, kita tidak bisa memandang sebelah mata buku-buku fiksi. Harits menutup pemaparan materi dengan kata-kata motivasi untuk para peserta, “Pengetahuan yang tidak disampaikan hanya akan bertahan sepanjang usia kita, pengetahuan yang disampaikan secara lisan hanya akan bertahan selama ada yang mengingatnya, tetapi pengetahuan yang kita sampaikan melalui tulisan akan bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahkan ketika kita sudah tiada”.
Doni Alfaruqy dalam seminar “Cara Mudah Menulis Buku Fiksi & Non Fiksi” yang diselenggarakan pada hari Jumat, 08 November 2024 pukul 15.00-16.30 WIB
Sementara itu, seminar dengan pemateri Doni Alfaruqy diadakan pukul 15.00-16.30. Doni menyampaikan tentang tips menulis buku fiksi dan non fiksi yang dapat dimulai dengan hal yang sederhana, misal memulai dari bidang yang dikuasai oleh penulis untuk buku non fiksi dan untuk buku fiksi bisa dibuat plot atau alur cerita yang menarik berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis. Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya terkait cara menjaga motivasi menulis buku dikala terjadi kejenuhan dalam menulis. Terkait hal ini, narasumber sangat menekankan pentingnya rehat sejenak dari aktivitas menulis dan melakukan hobi atau olahraga ringan untuk membuat pikiran agar segar kembali, setelah itu, lanjutkan Kembali aktivitas menulis sesuai dengan target yang telah dibuat.
Sejak berdiri di tahun 2020 hingga saat ini, Itera Press rutin mengadakan seminar dan pelatihan, baik yang diinisiasi oleh tim Itera Press maupun yang diinisiasi oleh pihak lain. Di kampus Itera, mahasiswa-mahasiswi Arsitektur telah selama 3 tahun berturut-turut mengundang pemateri dari Itera Press untuk melakukan pelatihan dalam menyusun buku Panipahan Mengarungi Laut, Menapak Jejak Suku Mentawai, dan Nusaantara 4.0, 2024. Selain itu, tim Itera Press juga pernah menjadi pemateri dalam seminar “Pelatihan Penulisan Buku Ajar & Talkshow How to Avoid Predatory Journal” yang diselenggarakan oleh LPPM Itera dengan pemateri dari 3 kampus: Itera, Unila, dan ITB. Di luar kampus Itera, tim Itera Press juga pernah diundang sebagai narasumber dalam acara-acara yang diadakan bersama Radio RRI Pro 2 Lampung dengan topik “Regulasi Hak Cipta”, Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Press dengan topik “Penerbit sebagai Unit Penunjang Akademik”, dan Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) Universitas Lampung dengan topik “Pengelolaan Penerbitan Buku di Kampus” yang rencananya akan diadakan pada tanggal 18 November 2024 nanti.
“One for all and all for one” merupakan semboyan The Three Musketeers dalam novel legendaris karya Alexandre Dumas yang ditulis di tahun 1844. Semboyan tersebut menandakan pentingnya solidaritas dan loyalitas dalam menghadapi tantangan. ITERA Press merupakan penerbit muda yang menghadapi banyak tantangan dan melalui masa-masa sulit. Namun, berkat solidaritas dan loyalitas dari tim yang menggerakannya, penerbit tersebut mampu berdiri tegap hingga saat ini. Bahkan, ITERA Press berhasil mengukir berbagai prestasi. Berikut prestasi-prestasi para pemimpin redaksi ITERA Press yang layak disebut the three musketeernya ITERA Press.
Harits Setyawan, Pimred ITERA Press periode 2020 – 2021, merupakan pemimpin redaksi pertama Institut Teknologi Sumatera Press. Ia adalah salah satu pendiri ITERA Press. Sebelum ITERA Press resmi menjadi penerbit, ia mengajukan izin untuk mendirikan penerbit kampus ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan kemudian mengajukan penerbit baru tersebut sebagai anggota IKAPI. Ia juga merupakan penggagas program-program unggulan ITERA Press, seperti menerbitkan buku gratis, kolaborasi menulis dosen dan mahasiswa, meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam publikasi, ITERA Press seminar series, serta memaksimalkan peningkatan skor Sinta penulis dan distribusi buku. Pada masa kepemimpinannya, ITERA Press berhasil menerbitkan buku melebihi jumlah yang ditargetkan untuk menyukseskan program insentif yang diselenggarakan oleh kampus dan membawa civitas akademika ITERA meraih penghargaan di tingkat nasional (Lembaga Prestasi Indonesia – Dunia).
Doni Alfaruqy, Pimred ITERA Press periode 2022 – 2023, merupakan pemimpin redaksi kedua Institut Teknologi Sumatera Press. Melanjutkan program-program yang telah berjalan, pada masa kepimpinannya, ITERA Press berhasil menjadi penerbit penyumbang ISBN terbanyak di kabupaten Lampung Selatan, peraih penghargaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, serta membawa civitas akademika ITERA meraih prestasi di tingkat nasional dan internasional (Indonesia Book of Records & Asia Book of Records). ITERA Press juga rutin mengadakan pelatihan dan seminar yang ditujukan untuk mahasiswa dan umum sehingga penerbit tersebut semakin dikenal oleh masyarakat. Meskipun banyak penerbit mengalami penurunan jumlah publikasi buku sebagai akibat dari pembatasan pemberian ISBN oleh Perpusnas, ITERA Press secara konsisten berhasil meningkatkan jumlah publikasi buku setiap tahunnya.
Tefur Nur Rohman, Pimred ITERA Press periode 2024 – sekarang, merupakan pemimpin redaksi ketiga Institut Teknologi Sumatera Press. Pada masa kepemimpinannya, ITERA Press telah berhasil menjadi penerbit penyumbang ISBN terbanyak di Provinsi Lampung dan top 10 penerbit peraih ISBN terbanyak se-Indonesia. ITERA Press juga berhasil membawa program studi DKV ITERA raih peringkat 1 Sinta Score 3Yr dan Sinta Score Overall dan civitas akademika ITERA raih peringkat top 50 Sinta Score Overall dari seluruh dosen di Indonesia. Selain itu, buku karya civitas akademika ITERA yang diterbitkan oleh ITERA Press tidak hanya digunakan di kampus ITERA tetapi juga kampus lain hingga di luar pulau Sumatera. ITERA Press terus berupaya mengembangkan diri dengan berkolaborasi dengan penerbit-penerbit di Jawa dan Kalimantan, meningkatkan kualitas dengan mengikuti uji sertifikasi BNSP, serta bekerjasama dengan program studi dan unit terkait.
Harits Setyawan, dosen DKV Institut Teknologi Sumatera (ITERA), berhasil melakukan penerbitan sebanyak 211 buku & prosiding ber-ISBN
Harits Setyawan, dosen DKV Institut Teknologi Sumatera (ITERA), berhasil melakukan penerbitan sebanyak 211 buku dan prosiding sebagai penulis utama, penulis pendamping, editor, dan pemakalah. Rupanya, kegemaran dalam menulis sudah muncul sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Ketika berada di kelas X (sepuluh), atas inisiatif sendiri, Harits menulis sebuah novel yang diberi judul “Mungkin Nanti”. Novel tersebut diketik di tempat-tempat rental komputer dan disimpan di dalam sebuah disket hingga tersusun puluhan halaman. Kemudian pada suatu hari, sekolah menegah atas tempatnya menimba ilmu mengadakan lomba-lomba pada acara gebyar seni, yang salah satunya yaitu lomba menulis cerpen. Harits yang sebenarnya tidak berencana mengikuti lomba akhirnya mengirimkan novel itu sebagai perwakilan kelas. Walaupun tidak sesuai dengan kriteria lomba cerpen, novel tersebut berhasil membawa remaja yang baru saja berusia 16 itu menjadi juara.
Harits terus mengembangkan kegemarannya dalam menulis. Ketika duduk di bangku kuliah, ia tidak hanya menulis novel tetapi juga pantun dan puisi. Oleh sebab itu, ia cukup berhasil di kelas-kelas menulis, seperti Poetry dan Writing, bahkan pernah menjadi satu-satunya mahasiswa yang memperoleh nilai A di kelas. Meskipun memiliki banyak tulisan, Harits tidak mengirim tulisannya ke penerbit. Ia berpikir statusnya yang masih mahasiswa akan membuat karya-karyanya kurang diminati oleh pembaca dan berharap telah menekuni suatu profesi ketika menerbitkan buku. Hal itulah yang membawanya pada penyesalan hingga hari ini karena hilangnya karya-karya itu.
Semenjak saat itu, Harits semakin terdorong untuk menerbitkan karya-karyanya. Ia rutin mengikuti berbagai acara, mulai dari penjadi pemakalah pada seminar-seminar nasional dan internasional, mengikuti kegiatan-kegiatan penyusunan bunga rampai, hingga mengirim karya-karyanya ke penerbit. Tentu tidak semuanya berjalan dengan lancar. Pernah, artikel penelitian yang sudah ia presentasikan di seminar nasional tidak diterbitkan dalam prosiding dan naskah yang sudah ia kirim di kegiatan penyusunan bunga rampai tidak menjadi buku karena peserta yang mengikuti acara-acara tersebut tidak cukup banyak. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan semangat Harits dalam berkarya. Ia terus mengikuti kegiatan-kegiatan semacamnya agar karya-karyanya bisa diterbitkan.
Hari ini, 20 tahun telah berlalu dari hari pertama Harits mulai mengetik karya-karyanya di rental komputer. Kini, ia berusaha memotivasi mahasiswa-mahasiswi di kampus untuk menerbitkan karya-karya mereka sedini mungkin agar tidak mengulang kekeliruannya di masa lalu. Bersama dengan tim ITERA Press, ia berusaha meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam publikasi melalui program kolaborasi menulis dosen dan mahasiswa. Program tersebut mendapat sambutan yang baik dan hingga saat ini, ITERA Press telah berhasil menerbitkan ratusan buku ber-ISBN. “Dosen menerbitkan tulisan adalah hal biasa dan justru diwajibkan tetapi mahasiswa menerbitkan tulisan adalah prestasi”, tuturnya.
Karya-karya baik yang ia tulis sendiri maupun yang hasilkan bersama rekan-rekan sejawat, dosen-dosen di kampus lain, penulis-penulis bunga rampai di seluruh Indonesia, pemakalah-pemakalah seminar nasional dan internasional, serta mahasiswa dan mahasiswi di kampus akhirnya terkumpul hingga berjumlah 211 buku dan prosiding ber-ISBN. Kegigihannya dalam melakukan penerbitan karya membawanya meraih berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional. Karya-karyanya juga tidak hanya digunakan di kampus tempatnya bekerja tetapi juga kampus-kampus lain hingga di luar pulau Sumatera. Harits mengucapkan rasa syukur atas pencapaiannya tersebut dan berharap anak-anak muda yang memiliki hobi menulis segera mengirim tulisannya ke penerbit karena usia muda bukan halangan untuk menerbitkan karya.