Perpusnas RI kian hari kian membatasi pemberian ISBN. Hal itu menyebabkan tidak semua buku bisa memperoleh nomor identifikasi tersebut. Padahal, setiap buku yang terbit memerlukan tanda identitas agar mudah ditelusuri asal-usulnya. Oleh sebab itu, ITERA Press meluncurkan nomor identifikasi untuk buku-buku yang diterbitkan tanpa ISBN.
ITERA Press Book Number (IPBN) merupakan serangkaian nomor yang terdiri dari 13 digit angka sebagai tanda identitas buku. Sampul belakang buku yang diterbitkan tanpa ISBN akan diberikan Barcode dan Quick Response (QR) Code yang dapat dipindai menggunakan perangkat elektronik, seperti mobile phones dan scanners. Dengan demikian, masyarakat dapat menelusuri rekam jejak penulis dan penerbit.
Harits Setyawan menjelaskan buku tanpa identitas yang jelas dapat menimbulkan persepsi negatif dan kekhawatiran. Dengan memberikan tanda identitas pada setiap buku yang diterbitkan, penerbit akan mampu mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, membantu penulis agar dikenal oleh masyarakat, serta mempermudah pembaca dalam membuat kutipan dan referensi.
Harits Setyawan, Koordinator Permohonan ISBN dan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) ITERA Press
Tidak dapat dipungkiri, penerbit kampus berperan besar dalam menunjang kegiatan akademik. Dosen dapat menerbitkan buku dengan lebih mudah di penerbit yang sudah disediakan oleh kampus dan tanpa biaya. Bahkan, ada banyak penerbit kampus yang kini telah menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk membantu pemasaran dan pendistribusian buku. Tidak hanya itu, mahasiswa dapat belajar bagaimana mengelola sebuah penerbitan buku dengan mengikuti program magang Kampus Merdeka yang dapat memberikan pengalaman tentang dunia kerja. Mahasiswa juga berkesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh penerbit kampus dan menimba ilmu dari narasumber-narasumber yang sukses berkat buku yang mereka tulis.
Sebagai salah satu penerbit kampus di Indonesia, ITERA Press mendukung tercapainya target publikasi, serta bersinergi dengan jurnal ilmiah dan sentra kekayaan intelektual yang juga telah disediakan oleh kampus. Salah satu hasil dari sinergi tersebut yaitu keberhasilan program studi DKV institut Teknologi Sumatera (ITERA) meraih peringkat 1 Sinta Score Overall dan peringkat 3 Sinta Score 3Yr dari 125 program studi desain se-Indonesia berdasarkan data di laman: https://sinta.kemdikbud.go.id/departments?q=desain+komunikasi+visual yang diakses pada hari kamis 09 November 2023. Di usia yang masih belia, prodi tersebut mampu memantapkan posisinya sebagai program studi desain yang unggul di tingkat nasional.
Harits Setyawan, koordinator Permohonan ISBN dan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) ITERA Press, menyampaikan unit-unit penunjang akademik yang disediakan oleh kampus merupakan kendaraan-kendaraan yang dapat membantu civitas akademikanya mencapai tujuan dengan lebih mudah. Oleh sebab itu, mari kelola dan gunakan dengan sebaik mungkin.
Jumat, 20 Oktober 2023, Tim ITERA Press yang diwakili oleh Harits Setyawan, Doni Alfaruqy, dan Muhammad Arhan bertemu secara daring dengan Tim Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Press yang diwakili oleh Eko Agung Syaputra, Nursantina, dan Arief N. serta perwakilan dari LPPM Institut Teknologi Kalimantan dalam rangka menjalin kerjasama untuk mengembangkan penerbitan. Pada kesempatan itu, baik Tim ITERA Press maupun Tim ITK Press memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh penerbit PTN –Satker dan solusi-solusi yang diambil guna mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Harits Setyawan mewakili Tim ITERA Press menyampaikan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui oleh Institut Teknologi Sumatera PressEko Agung Syaputra mewakili Tim ITK Press menyampaikan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui oleh Institut Teknologi Kalimantan Press
Pertemuan tersebut semakin memperkaya wawasan kedua tim dalam mengelola sebuah unit di tengah kerasnya persaingan di dunia penerbitan buku. Kedua penerbit itu berencana mengadakan berbagai kerjasama untuk menunjang keberhasilan penerbit kampus. Dalam waktu dekat, Tim ITERA Press dan Tim ITK Press akan mengadakan pelatihan bersama sebagai langkah awal kerjasama kedua penerbit tersebut.
ITERA Press kembali unjuk gigi. Kali ini di usia 3 tahun, penerbit ini telah berhasil menerbitkan lebih dari 200 buku ber-ISBN. Hingga kini, ITERA Press telah mengajukan 234 buku ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 201 buku sudah memperoleh ISBN dan sisanya sedang dalam proses review. Rupanya, ITERA Press tidak hanya menerbitkan buku-buku karya civitas akademika Institut Teknologi Sumatera tetapi juga masyarakat umum. Penulis berasal dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari mahasiswa, guru, dosen, hingga pejabat pemerintahan. Buku-buku yang diterbitkan oleh ITERA Press juga sangat bervariasi. Terdapat buku anak dan semua umur, fiksi dan non fiksi, penelitian dan non penelitian, sole author dan bunga rampai, serta biografi dan autobiografi.
Harits Setyawan, koordinator permohonan ISBN dan serah simpan karya cetak dan karya rekam (SSKCKR) ITERA Press, menjelaskan buku dapat diusulkan untuk ISBN versi cetak dan elektronik. Untuk buku pada kategori umum, jumlah minimal isi buku adalah 49 halaman. Sementara itu untuk buku pada kategori anak-anak, isi buku boleh di bawah 49 halaman. “Perpustakaan Nasional Republik Indonesia semakin memperketat pemberian ISBN. Agar dapat memperoleh ISBN, buku harus ditujukan untuk masyarakat umum. Banyak buku yang dahulu bisa memperoleh ISBN tetapi sekarang tidak lagi, terutama buku-buku yang bersifat internal”, ungkapnya.
Harits menambahkan, tidak jarang Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengharuskan buku-buku yang diajukan oleh ITERA Press untuk direvisi. Apabila terdapat revisi minor atau hal-hal yang masih bisa ditangani oleh penerbit, tim ITERA Press akan langsung merevisi buku-buku tersebut. Akan tetapi apabila revisi tersebut perlu dilakukan sendiri oleh penulis, tim ITERA Press akan menyampaikan permintaan revisi dari Perpusnas RI kepada penulis. Meskipun demikian, penulis bisa datang langsung ke ruang ITERA Press di Gedung Kuliah Umum (GKU) lantai 4, kampus Institut Teknologi Sumatera untuk berdiskusi terkait bagaimana merevisi buku apabila mengalami kendala. “Kami berkomitmen untuk membantu semaksimal mungkin agar buku bisa memperoleh ISBN”, pungkasnya.
Hari ini, Senin 09 Oktober 2023, ITERA Press genap berusia 3 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, penerbit ini sudah mampu bersaing dengan penerbit-penerbit nasional terkemuka di Indonesia. Terbukti, ITERA Press berhasil menjadi salah satu penerbit peraih penghargaan pada Pekan Penghargaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Tahun 2023 yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di bulan September kemarin.
Hingga saat ini, ITERA Press telah mengajukan lebih dari 200 buku ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 170 buku telah memperoleh ISBN dan sisanya sedang dalam proses review. Dengan angka rata-rata terbitan yang terus naik setiap tahunnya, ITERA Press optimis akan mampu menjadi penerbit penyumbang ISBN terbesar tidak hanya di Kabupaten Lampung Selatan tetapi juga di Provinsi Lampung.
Peran ITERA Press dalam mendukung kemajuan kampus tidak bisa dipandang sebelah mata. ITERA Press memungkinkan civitas akademika Institut Teknologi Sumatera untuk menerbitkan sebanyak apapun buku tanpa biaya. Tidak hanya itu, ITERA Press juga memungkinkan civitas akademika Institut Teknologi Sumatera untuk meningkatkan Sinta Score Overall dengan mudah. Bahkan, penerbit ini juga memungkinkan civitas akademika Institut Teknologi Sumatera untuk meraih berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional.
Sangat disayangkan, masih ada civitas akademika Institut Teknologi Sumatera yang mengirim buku-buku mereka ke penerbit yang tidak bereputasi, mahal, dan bahkan tidak terdaftar sebagai anggota IKAPI/ APPTI. Padahal di era yang sudah serba modern seperti sekarang ini, rekam jejak penerbit dapat dengan mudah ditelusuri oleh siapapun. Hal itu tentu saja dapat berdampak buruk pada citra buku dan penulis itu sendiri di mata masyarakat.
“Menerbitkan buku boleh di penerbit manapun. Tidak ada yang mewajibkan civitas akademika Institut Teknologi Sumatera untuk menerbitkan buku di ITERA Press. Meskipun demikian, pilih penerbit yang bereputasi demi citra penulis, buku, dan kampus”, terang Harits Setyawan. “Apabila penerbit belum cukup dikenal, selain mengecek laman penerbit, penulis juga sebaiknya mengecek nama penerbit di laman Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan IKAPI/ APPTI untuk melihat track record penerbit tersebut”, tambahnya.
Harits menyampaikan civitas akademika Institut Teknologi Sumatera yang memahami dunia penerbitan buku sangat diharapkan untuk bergabung ke dalam Tim ITERA Press agar dapat bersama-sama mengembangkan penerbit ini. Selain itu, civitas akademika Institut Teknologi Sumatera juga sangat diharapkan untuk memanfaatkan penerbitan buku yang telah disediakan oleh kampus dengan semaksimal mungkin. “Melalui ITERA Press, mari kita ukir prestasi untuk kampus tercinta kita, Institut Teknologi Sumatera. Mak Kham, Sapa Lagi. Mak Ganta, Kapan Lagi”, pungkasnya.
Harits Setyawan, Tim ITERA Press, Pernah Diterima Bekerja di 10 Kampus
Bangga! ITERA Press memiliki anggota-anggota yang berpengalaman di bidangnya. Salah satunya yaitu Harits Setyawan, dosen Bahasa Inggris yang bertugas di program studi DKV Institut Teknologi Sumatera ini. Rupanya, Harits telah bermimpi untuk menjadi seorang dosen sejak masih mahasiswa. Perjuangannya dalam mewujudkan impiannya tersebut sangat patut untuk ditiru. Memulai karirnya di kampus sebagai NEC Fasilitator di STIKes Muhammadiyah Pringsewu Lampung pada tahun 2012, Harits Setyawan merupakan mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan TA. Meskipun demikian, ia mampu melaksanakan tugas-tugas yang diembannya dengan baik. Harits berhasil wisuda pada jenjang S1 dari Universitas Lampung pada bulan Desember 2012.
Pada bulan Maret 2013, Harits diterima bekerja sebagai Dosen Tidak Tetap di Perguruan Tinggi Teknokrat, sekarang bernama Universitas Teknokrat Indonesia. Profesi dosen yang ditekuni menuntut pria berusia 24 tahun itu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Harits pun kembali menjadi mahasiswa di kampus yang sama tetapi pada jenjang yang lebih tinggi, yaitu di program studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) angkatan 2014 gelombang 2. Menyelesaikan studinya dalam waktu kurang dari 3 semester, Harits berhasil menjadi wisudawan tercepat di kampus itu.
Harits Setyawan, Tim ITERA Press, Pernah Diterima Bekerja di 10 Kampus
Harits diterima bekerja sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) di DCC Tanjung Senang, serta Instruktur Bahasa Inggris di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung dan Universitas Lampung (UNILA) setelah meraih gelar Magister pada tahun 2016. Aktif mempresentasikan tulisannya dalam seminar nasional dan internasional, Harits dipercaya sebagai reviewer sejak tahun 2017 di jurnal SMART yang dikelola oleh STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung, sekarang bernama Universitas Muhammadiyah Pringsewu (UMPRI) Lampung. Kemudian, ia diterima bekerja sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ekonomi & Bisnis Islam (STEBI) Tanggamus dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer (STMIK) Pringsewu.
Di tahun yang sama, Harits juga diterima bekerja sebagai Tutor Bahasa Inggris di UPBJJ-Universitas Terbuka Bandar Lampung dan sudah terbiasa berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswi yang usianya jauh di atas dirinya karena peserta didik di kampus tersebut hampir seluruhnya sudah berstatus pegawai. Keinginan yang kuat untuk memiliki homebase memotivasi Harits untuk terus melamar pekerjaan sebagai dosen di berbagai kampus. Lalu pada tahun 2018, ia diterima sebagai dosen di Institut Teknologi Sumatera (ITERA).
6 tahun menggelandang di 3 kota berburu pekerjaan tetap, perjuangan pria ini pun terbayarkan. Harits diterima sebagai dosen tetap di ITERA setelah melalui 1 tahun masa percobaan. Tidak ingin melukai kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, Harits pun melepas seluruh kampus tempat ia bekerja sebelumnya. Dosen ini pun akhirnya memiliki tempat tinggal (homebase). Dengan penuh rasa syukur, ia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk Institut Teknologi Sumatera (ITERA), kampus tercinta yang telah mewujudkan impiannya.
Rektor Itera, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, dan perwakilan dari Itera Press, Harits Setyawan, menerima penghargaan di pekan penghargaan Perpusnas RI 2023.
Pada hari Rabu dan Kamis tanggal 6 -7 September 2023, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan Pekan Penghargaan Pelaksanaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Tahun 2023. Terdapat 6 kategori dalam penghargaan yang ditujukan untuk penerbit-penerbit buku di seluruh Indonesia tersebut, yaitu Penerbit Majalah/ Buletin, Penerbit Surat Kabar/ Tabloid, Penerbit Monograf, Penerbit Perguruan Tinggi, Penerbit Kementrian/ Lembaga, dan Produsen Karya Rekam (Monograf). Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Press berhasil menyabet penghargaan pada kategori “Produsen Karya (Monograf)”. Sungguh pencapaian yang sangat membanggakan, di usianya yang baru 3 tahun, ITERA Press telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat nasional dan internasional.
Rektor Itera, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha bersama dengan tim ITERA Press, Harits Setyawan dan Doni Alfaruqy, serta kepala UPT Perpustakaan, M. Alvien Ghifari, M.Sc., menghadiri acara penganugerahan tersebut yang bertema “Menjadi Anak Bangsa Kreatif: Pemenang di Era Digital” di Ruang Auditorium Lantai 2, Gedung Layanan Jasa dan Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dalam sambutannya mewakili Kepala Perpustakaan Nasional RI, Emyati Tangke Lembang, S.Sos selaku Direktur Deposit Perpusnas mengungkapkan pentingnya serah simpan karya cetak dan karya rekam, serta mengapresiasi terhadap usaha yang dilakukan oleh para penulis dan penerbit buku yang telah memberikan kontribusi positif dalam pengembangan literasi nasional.
Kesuksesan demi kesuksesan yang diraih oleh penerbit muda ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim ITERA Press dan dukungan penuh dari civitas akademika ITERA. Doni Alfaruqy, Pemimpin Redaksi ITERA Press mengucapkan terima kasih kepada Rektor Institut Teknologi Sumatera, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, Kepala UPT Perpustakaaan ITERA, M. Alvien Ghifari atas dukungannya selama ini hingga datang langsung ke acara penghargaan, serta Harits Setyawan, dosen DKV ITERA, yang selama ini bertugas mengusulkan permohonan ISBN, serta melaksanakan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SS KCKR) ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sehingga Institut Teknologi Sumatera Press dinobatkan menjadi salah satu penerima penghargaan dalam acara tersebut.
Persaingan di dunia penerbitan buku semakin ketat. Kini, banyak penerbit telah mengusulkan permohonan ISBN ke Perpusnas dan Hak Cipta Buku ke DJKI sekaligus. Untuk menjawab tantangan tersebut, selain menggandeng UMK-UMK yang dapat membantu civitas akademika ITERA dan masyarakat umum dalam mencetak buku, ITERA Press juga menggandeng Pusat Kelola Kekayaan Intelektual (PKKI) ITERA dan UMK yang dapat membantu dalam mendaftarkan hak cipta buku ke DJKI.
“Hak cipta buku yang diajukan melalui PKKI untuk civitas akademika ITERA dan dibiayai. Sementara itu, hak cipta yang diajukan melalui UMK untuk umum dan tidak dibiayai sehingga pemohon menanggung biaya pencatatan hak cipta.“
ITERA Press tidak memungut biaya 1 rupiah pun dalam memfasilitasi permohonan ISBN dan Hak Cipta Buku. Apabila didaftarkan melalui UMK, pemohon tetap sebagai pencipta dan pemegang hak cipta. Pemohon hanya perlu membayar biaya pencatatan hak cipta yang dibebankan oleh DJKI, yaitu sebesar Rp. 200.000 untuk 1 karya tulis. Tim ITERA Press akan mengirim kode billing dari DJKI kepada pemohon. Lalu, pembayaran dilakukan sendiri oleh pemohon.
Program ini ditujukan hanya untuk buku-buku yang diterbitkan oleh ITERA Press, baik buku yang diterbitkan dengan ISBN maupun tanpa ISBN. Seluruh berkas yang diperlukan dapat diunduh pada laman: press.itera.ac.id/unduhan.
ITERA Press terus memperkuat eksistensinya di dunia penerbitan buku. Mengutip kata-kata bijak “Profesionalitas yang teruji, tidak diragukan kualitas kerja dan karyanya”. Oleh karena itu selain mengejar pencapaian dalam produktifitas dan prestasi, penerbit ini juga mengejar pencapaian dalam “kredibilitas profesional” setiap anggotanya.
Pada tanggal 7 Juni 2023, Harits Setyawan, dosen DKV Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dinyatakan lulus uji oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional, sebagai Penulis Buku Non Fiksi dan Editor Substantif Profesional melalui jalur portofolio. Pencapaian yang membanggakan itu diraih berkat pengalamannya bekerja sebagai editor. Ternyata, Harits telah lama bergelut di dunia Editorial mulai dari sebagai Editor Naskah, Editor Substantif, hingga Editor in Chief. Tidak hanya aktif di dalam Editorial Team penerbit buku, Harits juga aktif dalam Editorial Team di beberapa jurnal nasional dan internasional.
Harits Setyawan memulai karirnya sebagai editor pada tahun 2017 melalui Book Chapter yang ditulis bersama rekan-rekannya. Buku itu dibuat secara mandiri mulai dari ilustrasi, desain, tata letak, hingga editing naskah dan pada saat itu, Harits ditunjuk untuk bertugas sebagai editor. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya buku tersebut berhasil diterbitkan pada tahun 2018. Semenjak itu, Harits secara aktif terlibat di dalam Editorial Team Penerbit Buku dan Jurnal, baik sebagai Editor Naskah maupun Editor Substantif. Lalu pada tahun 2020 dan 2021, ia dipercaya sebagai Editor in Chief di Institut Teknologi Sumatera Press, penerbit yang kini telah berhasil menjadi penyumbang ISBN terbesar di Lampung Selatan serta telah membawa civitas akademika Institut Teknologi Sumatera meraih berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional.
“Kami terus berupaya untuk meningkatkan kredibilitas profesional setiap anggota, salah satunya dengan mengikuti Pelatihan dan Uji Sertifikasi Profesi. Harits Setyawan merupakan salah satu anggota editorial team ITERA Press. Anggota-anggota yang lain juga kami targetkan lulus uji sertifikasi profesi”, tegas Doni Alfaruqy, Pemimpin Redaksi ITERA Press.