Workshop Buku Populer: Menapak Jejak Suku Mentawai

Harits Setyawan, Narasumber pada Kegiatan “Workshop Buku Populer: Menapak Jejak Suku Mentawai”

Kamis 27 Juli 2023, tim Nusaantara mengadakan workshop buku populer dengan tema Menapak Jejak Suku Mentawai dan narasumber Harits Setyawan. Pada kesempatan tersebut, tim Nusaantara mengutarakan maksud mereka akan menulis sebuah buku yang mengangkat topik tentang budaya dan arsitektur salah satu suku yang ada di Indonesia, yaitu suku Mentawai. Dengan mengadakan workshop tersebut, tim Nusaantara ingin narasumber mengupas bagaimana sebuah buku populer dibuat, mulai dari pembuatan draft, judul, desain, penulisan naskah, hingga memilih penerbit. Hal itu pun disambut dengan sangat antusias oleh Harits Setyawan, dosen sekaligus penulis yang berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional di bidang penerbitan buku.

Harits Setyawan, Narasumber pada Kegiatan Bedah Buku “Panipahan: Mengarungi Laut”

Rupanya ini bukan pertama kalinya tim Nusaantara menulis buku dengan mengangkat topik tentang budaya dan arsitektur yang ada di Indonesia. Pada tahun 2022, tim tersebut telah berhasil menerbitkan buku dengan topik yang sama, yaitu Panipahan: Mengarungi Laut. Harits Setyawan sangat mengapresiasi keinginan tim Nusaantara untuk mengangkat topik tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk cinta dan kebanggaan terhadap keberagaman suku dan budaya di Indonesia yang patut dicontoh oleh generasi muda pada saat ini.

Harits Setyawan bersama Peserta Kegiatan “Workshop Buku Populer: Menapak Jejak Suku Mentawai”

Harits Setyawan menjelaskan bahwa buku populer merupakan buku yang menargetkan sebanyak mungkin pembaca agar dapat meraih popularitas, baik untuk penulis maupun sesuatu yang disampaikan di dalam buku itu. Oleh sebab itu, tim penulis perlu membidik apa yang dicari oleh pembaca sebagai side-objective dalam penulisan buku. Selain itu, buku populer juga sebaiknya mudah dipahami oleh berbagai kalangan agar dapat menjaring sebanyak mungkin pembaca sehingga tidak berbentuk eksklusif atau hanya untuk orang-orang pada bidang tertentu saja. Pada kesempatan itu, Harits Setyawan juga membedah karya-karyanya yang telah terbit, mulai dari buku non fiksi hingga fiksi agar dapat menjadi gambaran bagaimana sebuah buku populer dibuat.

TIM ITERA PRESS JALIN KERJASAMA DENGAN UPT PERPUSTAKAAN ITERA

Selasa, 18 Juli 2023, tim Itera press yang diwakili oleh Doni Alfaruqy, M.Pd., (Koordinator Itera Press), M Arhan Rajab, M.Si dan Tefur Nur Rohman, M.Li selaku anggota dan manager promosi melakukan silaturahmi sekaligus berkoordinasi dengan UPT Perpustakaan Itera. Tim Itera Press disambut oleh M. Alvien Ghifari, M.Sc selaku Kepala UPT Perpustakaan dan Adi Putra Wijaya (Pustakawan).

Acara berlangsung dengan hangat dan diawali dengan perkenalan anggota tim Itera press dan anggota UPT Perpustakaan. Beberapa pertanyaan dan saran disampaikan oleh kedua pihak dalam rangka membangun koordinasi dan tugas pokok kedua unit ini dalam satu kesatuan. Beberapa kesepakatan dan saran diterima dan akan disampaikan ke pimpinan, salah satunya terkait kejelasan status dari Itera Press sendiri. Pertemuan berlangsung selama 90 menit dan diakhiri dengan berfoto Bersama.    

Dari Sebuah Gudang Hingga Menjadi Penyumbang ISBN Terbesar

Pada tanggal 10 September 2020, kampus membentuk tim Ad Hoc untuk mendirikan sebuah penerbit buku yang bernama Institut Teknologi Sumatera Press atau yang lebih dikenal dengan nama ITERA Press. Dengan segera, tim tersebut berusaha melengkapi persyaratan untuk mendaftar sebagai penerbit. ITERA Press berhasil memperoleh izin dari Perpustakaan Nasional Indonesia untuk mengajukan permohonan ISBN dan resmi berdiri pada tanggal 09 Oktober 2020.

Meskipun berhasil berdiri dalam waktu yang relatif cepat, jalan yang dilalui oleh penerbit baru ini tidaklah mulus. ITERA Press tidak memiliki apa-apa pada saat berdiri. Ruangan pertama ITERA Press adalah sebuah gudang di GKU yang harus dirapihkan terlebih dahulu agar menjadi tempat yang layak untuk bekerja. Setelah beroperasi sekian bulan di gudang itu, barulah kemudian ITERA Press memperoleh sebuah ruangan kosong di gedung F, ruangan tanpa meja dan kursi. Di ruang kosong itulah, ITERA Press kembali beroperasi. Tidak sampai di situ saja, di tahun 2020, personel ITERA Press juga berkurang karena harus tugas belajar, meninggalkan beberapa personel termasuk saya yang sebetulnya tidak begitu paham tentang dunia penerbitan.

Di awal tahun 2021, kampus berencana meluncurkan program insentif buku. Penulis akan memperoleh insentif apabila menerbitkan buku di penerbit yang sudah terdaftar IKAPI/ APPTI. Agar dapat memfasilitasi penulis yang ingin memperoleh insentif tersebut, ITERA Press harus segera terdaftar sebagai anggota asosiasi penerbit. ITERA Press memilih IKAPI karena biaya keanggotaannya yang lebih terjangkau. Mengejar keanggotaan IKAPI dalam waktu yang singkat adalah tantangan yang tidak mudah. Penerbit harus sudah menerbitkan minimal 3 buah buku untuk mendaftar sebagai anggota IKAPI. Padahal, memikat hati penulis agar mau mengirim naskah ke penerbit yang belum seumur jagung tidak semudah membalikan telapak tangan. Setelah sosialisasi ke sana kemari tidak kunjung membuahkan hasil dan waktu pun semakin menipis, tim ITERA Press memutuskan untuk menulis ketiga buku tersebut. Alhasil meskipun baru saja berdiri, ITERA press berhasil mendaftar sebagai anggota IKAPI sebelum program insentif buku tersebut diumumkan.

Ternyata tantangan-tantangan di awal ITERA Press berdiri tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah program insentif buku berjalan, agar program tersebut terlaksana dengan baik, ITERA Press harus menerbitkan minimal 20 buku dalam kurun waktu 1 tahun. Itu tentu saja merupakan tantangan yang tidak mudah. Walaupun program insentif buku membuat penulis lebih bersemangat, sebuah buku yang baik tidak akan selesai dibuat dalam hitungan hari. Menyelesaikan sebuah buku bisa memerlukan waktu berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun apabila tingkat kesulitannya tinggi. Terlebih lagi, mendapatkan naskah untuk diterbitkan, bagi penerbit baru, juga tidaklah mudah di tengah persaingan dengan penerbit-penerbit berpengalaman yang mampu memberikan fasilitas yang lebih menarik kepada penulis. Ditambah lagi pada saat itu, jumlah personel aktif ITERA Press semakin sedikit karena sebagian besar harus mengikuti tugas belajar pada tahun 2020 dan 2021. Namun dengan berbagai upaya tak kenal lelah yang ditempuh, akhirnya ITERA Press mampu menjawab tantangan tersebut dengan berhasil menerbitkan lebih dari 20 buku dalam kurun waktu 1 tahun.

Man jadda wa jadda. Usaha tidak akan menghianati hasil. Begitulah kata pepatah. Seiring berjalannya waktu dengan dukungan civitas akademika ITERA, penerbit yang masih sangat belia ini pun sedikit demi sedikit mulai dikenal. Kini, ITERA Press tidak hanya dilirik oleh penulis-penulis yang berasal dari dalam kampus ITERA saja tetapi juga dari luar kampus ITERA, bahkan dari luar pulau Sumatera. Di usia yang belum menginjak 3 tahun, ITERA Press telah menjadi penerbit penyumbang ISBN terbesar di kabupaten Lampung Selatan. Tidak hanya itu, ITERA Press juga berhasil membawa civitas akademika ITERA meraih berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional. Semoga kisah perjalanan ITERA Press yang dirangkum ke dalam tulisan yang singkat ini dapat semakin memupuk semangat kita dalam membangun bangsa melalui unit-unit kerja yang ada di kampus tercinta kita, Institut Teknologi Sumatera.

ITERA Press Bawa Civitas Akademika Institut Teknologi Sumatera Ukir Prestasi Tingkat Asia

Harits Setyawan, dosen Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sumatera, ukir prestasi di level internasional. Pada tahun 2022, ia melakukan penerbitan sebanyak 61 buku dan berhasil menjadi orang yang melakukan penerbitan buku terbanyak dalam kurun waktu 1 tahun se-Asia sehingga dianugerahi gelar Grandmaster oleh Asia Book of Records. Seluruh buku tersebut diterbitkan oleh ITERA Press yang juga merupakan penerbit penyumbang ISBN terbesar di Lampung Selatan. Rupanya prestasi itu bukan prestasi pertama yang diraih oleh pria kelahiran Lampung 34 tahun silam. Sebelumnya, ia juga pernah meraih penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia – Dunia (LEPRID) dan Indonesia Book of Records (IBOR).

Penulis buku nonfiksi dan penyunting substantif (reviewer) yang telah lulus uji sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) ini, pertama kali mengajar di kampus pada tahun 2012. Selain pernah tercatat sebagai dosen, tutor, dan instruktur Bahasa Inggris di 10 universitas negeri dan swasta di Indonesia, Harits Setyawan juga merupakan reviewer di beberapa jurnal tingkat nasional dan internasional. Memiliki pengalaman bekerja di banyak kampus membuatnya cukup dikenal sehingga tidak jarang ia mengajak/ diajak oleh rekan-rekan dosen di dalam dan di luar kampus institut Teknologi Sumatera untuk menulis bersama.  Buku yang berjudul Mungkinkah Anak Semut Menjadi Harimau merupakan salah satu karya kolaborasi dosen Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung di mana ia menjadi salah satu penulis.

Dosen peringkat 1 Sinta Score Overall se-Institut Teknologi Sumatera dan peringkat ke 165 Sinta Score Overall dari 266.182 dosen se-Indonesia (09/06/ 2023, 17:00) itu mengucapkan banyak terima kasih kepada Institut Teknologi Sumatera Press yang telah membantu civitas akademika ITERA dalam menerbitkan buku. Ia berharap civitas akademika ITERA memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas yang ada. Menurutnya, Penerbit Buku, Hak Kekayaan Intelektual, Jurnal, dan unit-unit lain yang telah disediakan oleh kampus adalah kendaraan yang dapat mempermudah kita dalam mencapai tujuan, seperti akreditasi, jabfung, sertifikasi, rangking Sinta, prestasi, dan yang lainnya.

Sejalan, Doni Alfaruqy, Pemimpin Redaksi ITERA Press, menyampaikan ITERA Press mendukung penuh civitas akademika Institut Teknologi Sumatera untuk meraih prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Kami berkomitmen membawa civitas akademika ITERA meraih lebih banyak prestasi untuk kampus kita tercinta, Institut Teknologi Sumatera. ITERA Press terus berbenah agar dapat meningkatkan kualitas, salah satunya dengan mendorong setiap anggota untuk mengikuti uji sertifikasi profesi. Kami juga melakukan pendampingan dan pelatihan bagi para penulis melalui seminar-seminar yang rutin diadakan oleh ITERA Press. Selain itu, penulis juga bisa datang langsung ke ruangan ITERA Press yang terletak di lantai dasar di Gedung Kuliah Umum (GKU) Institut Teknologi Sumatera untuk berdiskusi terkait penulisan dan penerbitan buku.

ChatGpt: Ancaman atau Solusi?

Penggunaan kecerdasan buatan tidak bisa dihindari lagi dalam dunia Pendidikan atau akademisi. Belum adanya regulasi yang jelas dalam membatasi penggunaan Artificial Intelligence (AI) ChatGpt bisa berakibat fatal dalam penggunaannya. Hal ini dapat meningkatkan kasus plagiat dalam penulisan karya ilmiah. Disisi lain, terdapat beberapa kelebihan dalam penggunaan AI dalam menstimulasi penulisan kreatif atau sebagai pemantik awal ide penulisan. Menurut ACS Nano (2023), praktik penggunaan AI dalam penulisan makalah ilmiah bersifat dinamis dalam membantu menemukan ide dan tambahan referensi. Akan tetapi, muncul kekhawatiran dalam pemakaiannya untuk mahasiswa dalam mengerjakan sebuah makalah ilmiah karena batasan penggunaannya masih belum jelas. Disisi lain, kecerdasan buatan ini ternyata bisa digunakan untuk “rekan” berdiskusi sekaligus sebagai pemantik ide penulisan yang menarik untuk diulas, dan juga dampak negatif yang ditimbulkan dari AI, apabila salah dalam penggunaan. Tulisan ini akan mencoba berbagai macam sudut pandang yang dihasilkan.

Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan dalam memproses Bahasa dan data yang dimilikinya dapat menjadi sebuah pisau bermata dua. Disatu sisi, dengan memberikan pertanyaan yang tepat dapat memunculkan ide-ide alternatif atau informasi tambahan sebagai referensi dalam penulisan. Akan tetapi, berdasarkan saran dari Direktur Jendral UNESCO Audrey Azoulay (20 Maret 2023) menyatakan bahwa diperlukan beberapa langkah preventif dan batasan yang jelas dalam penggunaan ChatGpt di lingkungan perguruan tinggi.  Beberapa saran diperlukan diskusi bersama diantara pemangku kebijakan di perguruan tinggi seperti staf pengajar, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan pimpinan PT yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan untuk merumuskan cara dalam beradaptasi dengan ChatGpt. Kemudian setelah itu dapat melakukan evaluasi kepada semua bentuk penilaiaan dan penugasan yang terhubung dengan ChatGpt agar dapat melakukan terobosan dan penyesuaian dengan hasil pembelajaran yang diharapkan. Terakhir, sosialiasi yang lengkap dan jelas terhadap standar etika dan peraturan akademik dalam penggunaan ChatGpt dapat menjadi panduan untuk menghasilkan tulisan yang tetap orisinal dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.         

Bijak dengan AI

Penggunaan AI untuk brainstorming ide, mencari sudut pandang berbeda, memeriksa kesalahan tata bahasa dan kosa kata tentu sangat baik untuk meningkatkan kualitas tulisan. Namun demikian, ChatGpt memiliki beberapa kelemahan yang bisa menurunkan kualitas tulisan dan integritas penggunanya. Pertama, aplikasi ini rentan terkena plagiarisme karena tidak mencantumkan sumber tulisan atau pendapat ahli dari si penulis asli. Kedua, ChatGpt tidak dapat membedakan jawaban salah atau benar, sehingga tetap butuh pengawasan atau kendali dari pengguna untuk memutuskan penggunaan kalimat. Ketiga, belum adanya regulasi yang sama antar negara pengguna, sehingga rentan terkena undang-undang hak cipta.

Pada akhirnya, terdapat beberapa saran yang bisa diterapkan oleh institusi pendidikan untuk menggunakan ChatGpt dengan bijak sebagai berikut; (1) Literasi AI, agar memperluas wawasan dalam penggunaannya. (2) Pemahaman nilai etika dalam AI untuk menekankan penggunaan originallitas ide dalam berkarya, karena AI hanya sebagai pembantu ide penulisan. (3) Kompetensi dan keahlian AI penting untuk ditingkatkan secara berkala agar dapat mengimbangi kemajuan teknologi dimasa depan.

Referensi

ACS Nano, 2023, 17, 4091-4093.

UNESCO. 2023, ChatGPT and Artificial Intelligence in Higher Education. 4 – 13.

Doni Alfaruqy (Koordinator Itera Press )

Dalam rangka hari Buku Nasional 17 Mei 2023

ITERA PRESS Perpanjang Keanggotaan IKAPI

>Beberapa waktu yang lalu, ITERA Press yang diwakili oleh Ketua Redaksi, Doni Alfaruqy, M.Pd, menerima sertifikat keanggotaan ITERA Press dari IKAPI Pusat yang berlaku sampai dengan 31 Maret 2025, bertempat di kantor Aura Publishing. Sertifikat diberikan oleh Koordinator IKAPI Lampung yaitu Bapak Ikhsanuddin, S.Pd., M.M., beliau berpesan, akan banyak kegiatan kolaborasi dan kerjasama terkait penerbitan dan percetakan buku antar penerbit di Provinsi Lampung. Itera Press tercatat sebagai anggota luar biasa dengan nomor 009/Anggota Luar Biasa/LPU/2021. Selamat.